Senin, 17 Juni 2013

Pencitraan

Ngunandiko No.49


Pencitraan
(Image building)


Membangun citra atau sering disebut sebagai pencitraan (image building) adalah salah satu sarana seseorang politikus dapat mewujudkan cita-citanya.

Politikus yang sukses adalah politikus yang dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya. Untuk dapat mewujudkan cita-citanya, maka seorang politikus utama-nya harus memiliki :

  • ambisi dan fokus terhadap apa yang di cita-citakan ;
  • kerja dengan semangat pantang menyerah dan dapat mengontrol emosi ;
  • citra yang baik di mata masyarakat luas.

Dalam kesempatan ini  akan  dicoba membahas dan merenungkan bagaimana para politikus membangun citra (image building). Seperti diketahui membangun citra atau sering disebut sebagai pencitraan (image building) adalah salah satu sarana penunjang seorang politikus mewujudkan cita-citanya.
Sebagai gambaran adalah langkah membangun citra yang dilakukan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dan hal yang lebih kurang sama kiranya juga dilakukan oleh tokoh-tokoh lain seperti Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo ;  Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama ; Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew ; dan tokoh-tokoh lain.


Susilo Bambang Yudhoyono
Kita sering  membaca di surat-surat kabar  bahwa Susilo Bambang Yudhoyono “Presiden Republik Indonesia” dalam berbagai kesempatan telah melakukan pencitraan.  
“Pencitraan”  adalah berasal dari kata  “Citra” yang berarti pancaran atau reproduksi jatidiri atau bentuk orang perorangan, benda atau organisasi (lihat : “Building The Corporate Image” ; Siswanto Sutoyo).
Dalam hal ini citra adalah persepsi masyarakat terhadap jati diri Susilo Bambang Yudhoyono. Sedemikian jauh Susilo Bambang Yudhoyono dapat dianggap sebagai salah seorang tokoh politik yang berhasil.  

“SBY” yang mudah diingat oleh rakyat banyak dan  “Partai Demokrat” yang berwatak demokratis itulah yang menjadi identitas Susilo Bambang Yudhoyono dalam membangun citra.

Citra atau persepsi masyarakat terhadap jatidiri seseorang, menurut sejumlah pakar adalah berdasar atas apa yang mereka ketahui atau apa yang mereka kira tentang pribadi orang tersebut. Citra seorang politikus siapapun orangnya akan mempengaruhi sikap masyarakat terhadapnya, sehingga citra akan memberi peringkat buruk atau peringkat baik bagi-nya. Dalam suatu perjuangan politik mau atau tidak mau, seorang politikus harus mampu membangun citra yang baik.
Pada periode awal Susilo Bambang Yudhoyono terjun ke dunia politik, ia membiarkan khalayak memanggil dirinya “SBY” suatu singkatan  dari namanya yang sangat mudah diingat oleh rakyat banyak.  Susilo Bambang Yudhoyono berharap rakyat akan memandang-nya sebagai sosok yang dekat dengan rakyat, bahkan bagian dari rakyat itu sendiri. Sementara itu predikat  perwira tinggi militer pada masa orde-baru yang masih disandang oleh Susilo Bambang Yudhoyono tidak menguntungkan dirinya khususnya pada masa setelah reformasi. Untuk menghapus hal yang tidak menguntungkan itu, maka Susilo Bambang Yudhoyono mendirikan “Partai Demokrat” suatu partai yang menggambarkan watak demokratis yang jauh dari watak otoritarian seorang militer.
Nama “SBY” yang mudah diingat oleh rakyat banyak dan  “Partai Demokrat” yang berwatak demokratis itulah yang kemudian menjadi identitas Susilo Bambang Yudhoyono. Berbekal identitas tersebut Susilo Bambang Yudhoyono mulai membangun  citra dirinya dalam percaturan politik  di Indonesia. Disamping adanya identitas tersebut, ada faktor yang juga lebih mempermudah Susilo Bambang Yudhoyono masuk ke dunia politik adalah kedudukan-nya sebagai Menteri di bidang politik pada awal masa setelah reformasi. Identitas dan kedudukan-nya sebagai Menteri di bidang politik tersebut kiranya salah satu penyebab  Susilo Bambang Yudhoyono memperoleh citra yang baik dimata rakyat Indonesia, dan   akhirnya setelah melalui kerja keras  dapat memenangkan Pemilihan Umum dan mencapai kedudukan  tertinggi di Indonesia yaitu Presiden Republik Indonesia.
Seperti diketahui identitas adalah bukan citra, namun identitas adalah modal dan landasan membangun suatu citra. Identitas yang mengena dihati rakyat adalah landasan yang kuat untuk membangun citra baik di mata rakyat, suatu persepsi positip dari rakyat pemilih terhadap jatidiri seseorang. Jika seorang politikus  ingin sukses, maka ia harus memiliki suatu identitas yang mengena dihati rakyat banyak.
Banyak orang beranggapan bahwa  Joko Widodo memiliki identitas sebagai Gubernur yang dekat dengan rakyatnya, melalui “blusukan” ke segenap pelosok Jakarta yang sering dilakukannya ; Barack Husein Obama memiliki identitas sebagai Presiden Amerika Serikat berkulit hitam pertama, melalui perjuangannya membela keberagaman masyarakat multi etnis di Amerika  Serikat, dan Lee Kuan Yew memiliki identitas sebagai Perdana Menteri Singapura yang sangat disegani, melalui ketegasannya menjaga “disiplin & ketertiban” masyarakat di negara kota Singapura.
Tampak bahwa para tokoh tersebut memiliki identitas yang tumbuh dari persepsi orang banyak atas apa yang dimilikinya baik berupa nama panggilan-sikap (informasi), kekuatan-tindakan (energi), ataupun  kekayaan-sumberdaya (materi). Dari berbagai catatan sejarah dan cerita dapat diketahui bahwa sesungguhnya para tokoh pada jaman dahulupun dapat dikatakan menempuh jalan yang sama dalam usahanya memiliki identitas ; misalnya identitas King Arthur (akhir abad ke-5 s/d awal abad ke-6) sebagai raja Inggris  yang perkasa, karena mampu  mencabut   pedang-keramat yang tertanam di sebuah puncak gunung batu; demikian pula identitas raja Suleiman (1494 – 1566) sebagai raja yang membawa kemakmuran Kekaisaran Ottoman, karena mampu memiliki kekayaan yang melimpah ; dan identitas  Panembahan Senopati (1587-1601) yang membawa kejayaan kerajaan Mataram di Jawa, karena perkawinannya dengan Kanjeng Ratu Kidul penguasa laut selatan.


Sasaran pencitraan dari seorang tokoh adalah masyarakat yang dipandang memiliki peranan penting bagi keberhasilan tokoh tersebut.

Seperti telah dijelaskan dimuka identitas adalah modal dan landasan membangun suatu citra. Oleh karena itu seorang tokoh (politikus, negarawan dll) selain memiliki identitas yang tepat, dalam membangun citra harus memperhatikan masyarakat yang dipandang memiliki peranan penting bagi berhasilnya tokoh tersebut mencapai dan melaksanakan cita-cita-nya. Hal itu dapat dilakukannya melalui langkah-langkah sbb  :
  • Langkah pertama menetapkan bagian masyarakat  yang diharapkan akan mendukung atau memilih-nya (misalnya : kalangan muda atau tua ; rakyat tani atau buruh ; rakyat pedesaan atau kota ; dan lain-lain).
  • Langkah kedua menetapkan orang-orang yang akan membantu dalam usahanya melaksanakan cita-citanya ( misalnya : kalangan tehnokrat ; politisi ; pengusaha ; dan lain-lain )
  • Langkah ketiga memilih kelompok-kelompok masyarakat yang akan menjadi mitra (partner) dalam usahanya melaksanakan cita-citanya         (misalnya : Partai politik ; LSM ; para Ulama ; Pressure Groep ; Media-massa dan lain-lain) .
Dari uraian tersebut diatas sasaran pencitraan dari seorang tokoh adalah masyarakat yang dipandang memiliki peranan penting terhadap keberhasilan tokoh tersebut. Setelah menetapkan sasaran pencitraan, maka secara systematis perlu melakukan :
  • mempopulerkan citra-nya di kalangan sasaran (misalnya : melalui media massa cetak/elektronik ; seminar dan sejenisnya ; iklan dan propaganda ; dan lain-lain.
  • membentuk persepsi baik terhadap citra-nya dikalangan sasaran khusus-nya pemilih (seperti diketahui menang tidaknya seorang tokoh dalam Pemilihan Umum ditentukan oleh pemilih) ; untuk itu pada dasarnya ada dua cara yaitu : (a) berperilaku sejalan dengan citra yang akan dibangun dan (b) melakukan sosialisasi a.l dengan iklan dan propaganda.
  • memelihara persepsi baik dan kepopuleran citra-nya ( dengan cara yang sama seperti diatas).
  • menyempurnakan citra (misalnya : berdasar umpan balik dari kawan, maupun serangan dari lawan).

Usaha mempopulerkan citra, membentuk dan memelihara persepsi baik, serta menyempurnakan citra tersebut pada dasarnya perlu  dilakukan dengan teknik sbb :
  • Fokus                                :    usaha tersebut perlu dilakukan dengan penuh konsentrasi atau fokus.
  • Unik                                  :    usaha tersebut perlu dilakukan dengan cara yang specifik atau unik.                         
  • Appropriate                        :     usaha tersebut perlu dilakukan dengan cara yang memadai, tidak berlebihan dan tidak kurang.
  • Menjemput bola                  :    usaha tersebut perlu dilakukan dengan cara menjemput bola yang artinya pro aktip dengan mendatangi sasaran.   
  • Kontinu                              :    usaha tersebut perlu dilakukan secara terus menerus atau kontinu.    
  • Realistik                             :    usaha tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan situasi dan kondisi  sumberdaya dan dana.

Disamping itu usaha mempopulerkan citra tersebut diatas perlu pula memperhatikan situasi dan kondisi perasaan masyarakat, bahkan seringkali perlu dihentikan atau diubah. Sebagai contoh : (a) Jika situasi dan kondisi sedang berada dalam keadaan perang, maka mempopulerkan suatu citra seorang demokrat  adalah tidak tepat ; (b) Jika situasi dan kondisi sedang ada dalam keadaan tentram dan damai, maka mempopulerkan  suatu citra seorang revolusioner yang ingin suatu perubahan secara cepat adalah tidak tepat ;    (c) Jika situasi dan kondisi  sedang ada dalam keadaan membangun, maka mempopulerkan suatu citra seorang bapak pembangunan adalah tepat ; dan sebagainya. Namun semuanya itu memerlukan seorang ahli psycho massa, agar segala sesuatu dapat berjalan secara efektip dan efisien.

Mao Tse Tung
Ada kalanya citra seorang tokoh menjadi berubah karena sesuatu sebab, dapat karena adanya perubahan persepsi dari sasaran (masyarakat) ; atau dapat pula karena adanya perubahan sasaran (masyarakat). Misalnya pak Harto (Jenderal Suharto) semula dihadapan rakyat Indonesia memiliki citra sebagai tokoh yang lemah lembut (the Smiling General), namun karena reformasi citra pak Harto menjadi menakutkan ; Mao Tse Tung dihadapan rakyat China memiliki citra progresip revolusioner, namun dihadapan rakyat Amerika memiliki citra sebagai seorang diktator yang otoriter.

Sebelum menutup renungan ini ingin disampaikan bahwa :

  • Citra adalah merupakan persepsi masyarakat terhadap jatidiri seseorang ; dapat baik dan dapat buruk.
  • Untuk membangun citra, seseorang perlu memiliki identitas dan menetapkan sasaran terlebih dahulu.
  • Identitas adalah modal dan landasan membangun suatu citra, sebaiknya mudah diingat dan bersifat positip.
  • Sasaran pencitraan dari seseorang adalah bagian masyarakat yang dipandang memiliki peranan penting bagi keberhasilan-nya.
  • Citra selain perlu dibangun (dibentuk), perlu pula dipopulerkan, dan dipelihara ; disamping itu ada kalanya citra menjadi berubah atau perlu diubah karena sesuatu sebab.

Demikianlah renungan dan uraian  singkat tentang pencitraan (image building). Semoga bermanfat !

*
Democracy is still a radical idea in a world where we often confuse images with realities, words with actions (Hillary Clinton)


*

Jumat, 24 Mei 2013

INGIN TIDAK TERLAMBAT, JADI TERLAMBAT


Ngunandiko  No.46


INGIN TIDAK TERLAMBAT, JADI TERLAMBAT


Becak di Yogya
Peristiwa yang akan di uraikan dibawah ini berlangsung di Yogyakarta lebih dari setengah abad yang lalu, namun kiranya peristiwa tersebut masih patut menjadi renungan kita bersama  bahwa suatu tindakan yang dilakukan terlalu  awal  oleh siapapun  agar mendapatkan hasil  yang lebih baik ternyata dapat menghasilkan hal yang sebaliknya. Ingin tidak terlambat, malah jadi terlambat.

Paman saya (pada waktu itu berumur 26 tahun) bekerja di kantor Pemerintah Daerah karesidenan Banyumas di  Purwokerto, sementara itu pacarnya tinggal di kota Yogya.  Oleh karena itu setiap akhir bulan paman ke Yogya untuk menemui pacarnya (“Wakuncar” atau wajib kunjungi pacar). Biasanya paman dari Purwokerto hari Sabtu siang dan kembali dari Yogya hari Senen pagi ;  dengan kereta api.  Pada waktu itu  tahun 1950-an lalu lintas Purwokerto - Yogya belum seperti sekarang, hanya  kereta api yang menghubungkan Yogya – Purwokerto  dengan cukup nyaman dan tepat waktu.

Kereta api yang selalu dinaiki paman saya adalah kereta api ekspres Yogya – Jakarta. Paman biasanya berangkat dari Purwokerto hari Sabtu siang sehabis kerja ; kembali ke Purwokerto hari Senen pagi jam 5.15 sampai di Purwokerto kira-kira jam 9.00 pagi.  Hal itu berakibat kehadiran paman di kantornya terlambat, namun tidak banyak yang mengetahui karena hanya sebulan sekali. Sedemikian jauh paman belum pernah ditegur oleh atasannya karena keterlambatan-nya tersebut.

Paman kalau berada di Yogya selalu menginap di rumah orang tua saya (kakaknya) yang letaknya tidak jauh dari station Tugu lk 10 menit dengan kendaraan  becak. Pacar paman masih sekolah di SGA (Sekolah Guru Atas) dan rumahnya juga tidak jauh dari rumah orang tua saya lk 15 menit dengan berjalan kaki.

Biasanya paman kembali ke Purwokerto pada hari Senen pagi dengan kereta api yang berangkat jam 5.15 pagi dari station Tugu (Yogyakarta). Paman pagi-pagi  sesudah mandi dan minum teh manis panas, kira-kira jam 5.00 berangkat dengan becak ke stasiun  Tugu. Setelah menunggu dua atau tiga  menit kereta ke Purwokerto pun berangkat. Jadwal perjalanan seperti itu sudah di-jalani-nya selama lebih dari setengah tahun.  
Menunggu di stasiun Tugu
Pada suatu hari Senin  kalau tidak salah pada bulan Pebruari 1953, paman tidak seperti biasanya, jam 4.00 pagi sudah siap berangkat ke station Tugu. Hal itu disebabkan paman kuatir tertinggal kereta api ke Purwokerto yang berangkat jam 5.15 pagi. Menurut paman pada hari Senen itu jam 10.0 paman diajak  oleh bos-nya menghadap bapak Residen, maka paman berusaha sampai di stasion lebih awal dari biasanya , takut ketinggalan kereta.

Pada hari itu seperti biasa jam 6.30  pagi saya sudah siap berangkat ke sekolah. Tidak saya duga tiba-tiba paman muncul turun dari becak, kembali dari stasion dengan muka yang kelihatan sedih dan kecewa. Paman telah ketinggalan kereta ! Waktu  paman sampai di station Tugu  lk jam 4.30  masih terlalu pagi ; karena lamanya menunggu  maka paman tertidur di ruang tunggu dan tidak mengetahui kalau kereta api ke Purwokerto telah berangkat.

Paman memutuskan hari itu tetap tinggal di Yogya, karena tidak memungkinkan lagi sampai di Purwokerto sebelum jam 10.00 Mendengar paman ketinggalan kereta karena tertidur diruang tunggu stasion,  ayah saya hanya tersenyum.  Ingin tdak terlambat, malah jadi terlambat !

*
I'm not afraid of death, but I'm in no hurry to die. I have so much I want to do first
*

Sabtu, 20 April 2013

Propaganda


Ngunandiko.45



Propaganda.


Pada sejumlah peristiwa, propaganda telah membantu orang  melakukan tindakan pemaksaan, propaganda sering dianggap buruk. Sesungguhnya propaganda itu  baik atau buruk, tergantung dari tujuan dan cara melakukannya.

Menyampaikan atau menyebarkan informasi kepada orang atau fihak lain untuk diketahui dan dipahami ; baik informasi itu tentang benda seperti informasi tentang kain, mobil, patung, lukisan dll maupun informasi itu tentang bukan benda seperti informasi tentang  berbagai ajaran  seperti   ajaran politik, ajaran ekonomi, ajaran  agama, ajaran filsafat, ajaran menyanyi, ajaran melukis dll sering  dilakukan orang. Ada berbagai macam dan cara menyampaikan atau menyebarkan informasi tersebut a.l melalui percakapan, iklan (advertising), pameran (display), demonstrasi, diseminasi, sosialisasi, indoktrinasi, dakwah, kursus, propaganda dan sebagainya. Pada renungan ini yang akan dibahas hanyalah menyampaikan atau menyebarkan  informasi  melalui  “propaganda”.
Propaganda adalah setiap upaya untuk menyebarkan  ide dan pendapat (bukan benda). Propaganda dapat mengambil bentuk  percakapan antar orang atau pidato di berbagai pertemuan, iklan di halaman surat kabar, film yang muncul di layar di suatu gedung, gambar di ruang pameran dan lain-lain.
Kata "propaganda" berasal dari bahasa Latin "propagare" yang pada awalnya berarti "mereproduksi" atau "menyebar" ; dapat  pula berarti meneruskan,  mengirimkan,  dan menyebarkan dari orang ke orang.
Dalam pengertian klasik, propaganda adalah seni berkomunikasi melalui pesan, suatu komunikasi yang disertai dengan upaya mempengaruhi atau membujuk orang lain ( seseorang, kelompok, gerakan, institusi, bangsa, dll).
Dalam pengertian yang lebih specifik, propaganda berarti upaya mempengaruhi atau membujuk orang lain supaya mempercayai suatu kebenaran dari suatu kasus atau peristiwa tertentu.
Pada sejumlah peristiwa, propaganda  telah membantu orang  melakukan tindakan pemaksaan, maka propaganda sering dianggap buruk. Sesungguhnya propaganda itu  baik atau buruk, tergantung pada tujuan dan cara melakukannya.
Sejak orang mulai hidup bersama, maka orang telah mencoba untuk mempengaruhi satu sama lain.. Penguasa suatu negara dengan kekuasaan yang ada di tangannya sering mempengaruhi rakyatnya, agar senantiasa mendukung kekuasaannya. Seringkali para penguasa menggunakan budaya atau adat istiadat untuk hal itu, yang antara lain tampak dari contoh-contoh  berikut ini.
  • Pada zaman kuno (ancient) yaitu :  di Babilonia, Mesir, dan  di Romawi ;   (1) para imam keagamaan       (2) para peramal yang tersohor (3)  upacara ritual keagamaan & pengorbanan (4) takhayul yang populer   (5) prosesi kemenangan yang megah dari para panglima perang         (6) harta dan budak hasil rampasan perang dll digunakan oleh para penguasa untuk mempengaruhi  rakyatnya  agar kekuasaan tetap di tangannya. 
  • Di Jepang : Kaisar Jepang dikatakan   (di-propaganda-kan) sebagai keturunan langsung dari Amaterasu, sehingga rakyat hormat dan tunduk kepadanya. Amaterasu   adalah dewi matahari dan  alam semesta. Nama Amaterasu berasal dari Amateru berarti "bersinar di surga.", yang lengkapnya Amaterasu-Omikami atau Tuhan yang bersinar di langit.
  • Pada zaman dulu di Tiongkok, pemujaan terhadap Shang Di / Tian Gong {Thi Kong} hanya boleh dilakukan oleh Kaisar & keluarganya saja. Kepada masyarakat China ditanamkan kepercayaan – melalui propaganda – bahwa Shang Di adalah leluhur mereka dan memberikan mandat kepada Kaisar & keluarganya  untuk memerintah di bumi ini. Rakyat biasa tidak diperbolehkan memuja Shang Di / Thi Kong, karena dengan berbuat begitu dapat dianggap menyamakan dirinya sebagai keluarga Kaisar, suatu pelanggaran yang diancam dengan hukuman mati.
Kata "propaganda" diduga untuk pertama kali digunakan, dalam arti seperti sekarang ini, adalah ketika Paus Gregory XV mengadakan Kongregasi Propaganda pada tahun 1622. Ini adalah komite  yang ditunjuk untuk mempelajari cara menyebarkan iman Kristus ke seluruh  dunia.

Sebagaimana diketahui Declaration of Independence terjadi pada tanggal 3 July  1776 mengawali revolusi Amerika, selama revolusi Amerika tersebut tengah berkobar maupun menjelang revolusi, para pemimpin dan para pejuang kemerdekaan Amerika seperti :
  • Samuel Adam (1722 – 1803) menulis pamflet (anti Inggris) untuk memacu pemberontakan melawan Inggris di koloni-koloni.
  • Patrick Henry (1736 –1799) membuat  pidato yang terkenal  dengan judul  “Give me liberty or give me death (Beri saya kemerdekaan atau Beri saya kematian) " ; dengan tujuan yang sama.
  • Benjamin Franklin (1706 – 1790) dan George Washington (1732 1799) keduanya sering berpidato  yang membangkitkan semangat perlawanan para pemukim yang sudah mendidih.
Segala upaya  para pemimpin Revolusi Amerika  tersebut merupakan “propaganda” membangkitkan perlawanan rakyat guna mencapai kemerdekaan. 

Sementara itu di Indonesia menjelang dan selama  “Perang Kemerdekaan Indonesia 1945”, para pemimpin Indonesia  juga membakar semangat para pejuang dengan slogan-slogan a.l kata-kata Bung Karno (1901 – 1970) “Inggris kita Linggis, Amerika kita Setrika” (1943) dan “Merdeka atau Mati” (1945). Slogan “Merdeka atau Mati” tersebut terinspirasi pidato Patrick Henry lk dua abad sebelumnya yang berjudul  “Give me liberty or give me death” seperti dikemukakan diatas. Disamping itu kata-kata Jenderal Sudirman (1916  1950) pada kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto (1946) “Lebih baik di bom Atom dari pada Merdeka kurang 100% “. Semuanya itu dalam rangka membakar perlawanan terhadap penjajah Belanda dan siapa saja yang membantunya.
Pada saat ini, propaganda tidak lagi hanya masalah kata-kata yang diucapkan saja. Poduksi secara massal pamphlet, majalah, surat kabar dll sebagai media untuk menyebarkan suatu pandangan telah lazim dilakukan, demikian juga melalui media massa  lainnya seperti radio, TV, film, internet dan lain-lain.
Sejak abad ke-20, dapat dijumpai ratusan doktrin organisasi., doktrin  politik,  doktrin  ekonomi dll yang disebarkan ke masyarakat luas sebagai suatu ajakan atau bujukan,  dan  disamping itu dapat dijumpai pula iklan-iklan  komersial produk yang secara terus terang, mengajak publik untuk membelinya.
Sementara itu tampak bahwa sarana propaganda dari waktu ke waktu juga berkembang. Sejak di sekitar tahun 1915 sarana propaganda berupa film mulai dikenal,  tahun 1920 radio-televisi (TV), dan setelah Perang Dunia II berbagai perangkat elektronik (computer dll) yang  memiliki jangkauan luas juga telah menjadi sarana propaganda..

Menjelang dan selama Perang Dunia II kedua belah fihak yang berperang – negara-negara Sekutu (Inggris, Amerika Serikat, China, Perancis, Belanda dll) melawan  negara-negara Axes ( Jerman. Itali, Jepang dll) –   melakukan propaganda dengan menggunakan sarana propaganda dari yang sangat sederhana maupun yang paling canggih. Sebagai contoh Jepang di Asia Tenggara melakukan propaganda a,l melalui usaha perdagangan seperti toko-toko "Chiyoda" dan berbagai poster propaganda. Poster-poster propaganda tersebut pada dasarnya mengajak bangsa-bangsa Asia Tenggara yang dijajah oleh kolonialis Barat (Inggris & Co) agar berpihak ke Jepang, dan  menggambarkan Jepang sebagai saudara tua bangsa-bangsa Asia Tenggara

Biro Hubungan Masyarakat  (Public Relation) dan Kantor Berita (Press Agency)  digunakan oleh Pemerintah untuk membangun citra.  Sedangkan Biro Iklan (Advertising Agency) digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mempengaruhi orang agar membeli produk-produk tertentu.

Ada banyak cara melakukan propaganda, salah satu yang tertua (namun sangat efektif) adalah dari orang-ke-orang. Dalam hal ini, sebagian besar pemerintah sadar bahwa warga negara mereka di luar negeri dapat memainkan peran penting sebagai utusan dalam meneruskan suatu pesan. Informasi mengenai pesan tersebut dapat diberikan dalam banyak cara, namun hubungan pribadi  membuktikan betapa penting dan efektip-nya cara itu. Hal seperti itu banyak dilakukan oleh China maupun Yahudi, dimana etnis-nya tersebar hampir diseluruh pelosok dunia.

Propaganda Jepang
Pencetakan (printing material) mungkin merupakan cara yang paling populer untuk menjangkau sejumlah besar orang. Setiap orang atau kelompok dapat mencetak poster, pamflet, menulis artikel, atau memasang iklan di surat kabar untuk mengekspresikan pandangan politik, argumentasi, mempromosikan atau menjual produk. Setiap surat kabar harian memiliki halaman editorial, di mana berbagai pandangan  dan komentar dapat muncul.
Seni juga dapat digunakan untuk tujuan propaganda. Artis dan aktor menyampaikan pandangan mereka di atas panggung atau lewat layar televisi dan film. Para penulis baik melalui tulisan fiksi maupun nonfiksi dapat mempengaruhi masyarakat luas, demikian pula halnya para pelukis melalui gambar, karikatur dan poster dapat menggugah perhatian masyarakat. Para  kartunis bisa mengejek orang atau peristiwa dengan goresan di kanvas secara tepat dan menarik.

Biro Hubungan Masyarakat  (Public Relation) dan Kantor Berita (Press Agency)  digunakan oleh Pemerintah untuk membangun citra.  Sedangkan  Biro Iklan (Advertising Agency) digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mempengaruhi orang agar membeli produk-produk tertentu.

Public Relation, Press Agency, Advertising Agency dll adalah lembaga yang senantiasa berkecimpung dalam kegiatan menyebarkan informasi (propaganda). Untuk meningkatkan kemampuannya, maka lembaga tersebut melakukan penelitian & pengembangan (Litbang) guna mencari methode propaganda yang terbaik. Hal itu dilakukannya dengan melakukan berbagai riset, seperti riset perilaku, riset pasar dll. Disamping itu lembaga tersebut juga menyelenggarakan  pendidikan & latihan (Diklat) bagi  tenaga-tenaga yang bertugas melakukan propaganda (propagandis).

Seiring perubahan waktu, perubahan kekuasaan dan lain-lain ; yang berlangsung di suatu negara baik secara damai maupun dengan kekerasan akan mengakibatkan perubahan isi dan cara propaganda.


Dalam abad ini propaganda sering dianggap semata-mata sebagai alat pemerintah. Hal tersebut karena dengan senjata propaganda  pemerintah berusaha mengarahkan kehendak rakyat. Di negara-negara totaliter, pemerintah mengontrol semua media komunikasi & informasi dan berusaha mengendalikan apa yang dilihat, apa yang dibaca, dan apa yang dipelajari oleh masyarakat. Propaganda senantiasa mengelilingi orang-orang di rumah mereka, di sekolah mereka, dan di komunitas mereka. Tepat seperti iklan minuman Coca Cola” yang menyatakan bahwa coca cola  dapat diperoleh oleh  “Siapa saja, Dimana saja, dan Kapan saja”..
Propaganda juga digunakan oleh pemerintahan yang demokratis, namun  tidak dengan cara memonopoli-nya. Berbagai media komunikasi (surat kabar, station radio. TV dll) yang mewakili kelompok-kelompok masyarakat dibiarkan bebas beroperasi. Media komunikasi tersebut dapat  menawarkan informasi dengan  pilihan menurut sudut pandang masing-masing. Pemerintahan yang demokratis  mendorong adanya perdebatan dan adanya  yang disebut check & recheck dalam memahami suatu informasi. Disamping itu lebih dari satu partai politik dibiarkan hidup yang mewakili kekuatan-kekuatan masyarakat dengan berbagai pandangan. (catatan : Di negara yang menganut faham kapitalisme-liberalisme penyebaran informasi dibiarkan bebas, namun sesungguhnya secara otomatis akan dikendalikan oleh kemampuan finansial-nya !)
Kebebasan seperti yang dianut oleh pemerintahan yang demokratis  (lebih-lebih yang menganut faham kapitalisme-liberalisme) seringkali menyebabkan keberagaman tafsir terhadap informasi yang dapat berakibat perselisihan yang berkepanjangan, keadaan seperti itu dapat merugikan rakyat negara-negara berkembang yang sedang membangun. Hal itu karena perselisihan yang berkepanjangan  akan dapat memecah perhatian rakyat yang seharusnya berfokus pada pembangunan kesejahteraan yang masih harus dikejarnya.
Sesungguhnya propaganda tidak hanya digunakan oleh negara dan atau perusahaan sebagai suatu institusi yang bergerak secara terbuka, tetapi juga digunakan oleh institusi yang bergerak secara tertutup (undeground). Propaganda juga dilakukan oleh kaum resistante di Pera ncis (The resistance movement in Europe during World War Two) pimpinan Jenderal de Gaulle maupun kaum muslim Iran pimpinan Imam Khomeini selama mereka berjuang dibawah tanah. Jenderal de Gaulle mem-propaganda-kan “Perancis Merdeka” dari London, Imam Khomeini (1979) mem-proganda-kan semangat perlawanan terhadap Syah Reza Pahlevi di Iran dari Irak. (lihat : Ngunandiko.4 dan 9
Disamping itu propaganda juga dilakukan melalui perilaku apakah itu perilaku orang maupun lembaga. Hal itu antara lain tampak dari peri laku Korea Utara meledakkan “Bom Atom”, perilaku organisasi terror meledak-kan bom di bangunan terkenal dan lain-lain. Selain itu banyak perilaku dermawan yang di baliknya mengandung unsur propaganda seperti bantuan terhadap korban banjir, korban gempa dll.
Seiring perubahan waktu, perubahan kekuasaan yang berlangsung di suatu negara baik secara damai maupun dengan kekerasan mengakibatkan perubahan isi propaganda. Ketika hal itu  terjadi, maka materi propaganda pemerintah juga akan berubah sejalan dengan perubahan kekuasaan. Perang  adalah kombinasi pergulatan dalam dimensi  militer, ekonomi, politik, dan propaganda. Memenangkan suatu perang tidak cukup hanya  di front militer saja, namun harus juga menang di front ekonomi, politik dan propaganda sekaligus.

Dalam pergulatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya antar bangsa di dunia pada saat ini, propaganda telah mengambil dimensi baru. Setiap pemerintahan menggunakan sejumlah kata yang sama dalam melakukan propaganda, namun kata-kata itu  memiliki arti yang berbeda  bagi satu negara dengan negara yang lain. Misalnya suatu negara mengatakan  “Terrosime”, maka kata “Terrorisme” itu dapat memiliki arti yang berbeda bagi satu negara dengan negara yang lain ; demikian halnya dengan kata “Kebebasan”, “Demokrasi”, “Globalisasi”, “Konsumerisme”, “Pemanasan Global”, “Pasar Bebas” dan lain-lain,  Setiap pemerintah mencoba untuk mengekspresikan dirinya sendiri dengan cara yang membuat orang berpikir baik (positip) mengenai kata-katanya atau pernyataannya. Dengan demikian, kita harus waspada terhadap ide-ide yang  disebarkan  dengan kata-kata yang baik oleh  propaganda suatu negara.
Pada saat ini (abad ke-21) sebagian besar pemerintah memanfaatkan propaganda, apakah itu negara maju atau negara berkembang dan apakah itu negara demokratis atau totaliter. Sebagai contoh pemerintah Amerika Serikat melibatkan kegiatan propaganda dalam usahanya untuk  memenangkan dukungan bagi kebijakan luar negeri-nya. Hal ini dilakukan oleh Amerika Serikat a.l melalui USIA (United States Information Agency)  dengan siaran  “Voice of America.” Demikian juga perusahaan terutama perusahaan multinasional (MNC).
Sementara itu banyak orang yang merasa sulit membedakan antara laporan berita yang obyektif dan propaganda. Tampaknya propaganda adalah salah satu terminologi yang paling sulit bagi orang untuk menentukan artinya dengan jelas dan tepat. Jika  orang berharap propaganda   bermakna sama bagi semua orang, maka ada yang mengatakan bahwa hal itu seperti mencoba memegang belut yang licin dengan tangan, setiap saat dapat lepas kembali.

Propaganda  Nazi Jerman
Dalam bukunya “Mein Kampf”, Hitler merumuskan yang disebutnya sebagai “principle of the whopping lie atau “prinsip dahsyatnya kebohongan” dalam menarik massa agar mempercayai suatu kebohongan. Dalam hubungan itu Hitler (pemimpin tertinggi "ras unggul." ) mempunyai hipotesa tentang hal itu, yang secara singkat dapat dilukiskan sbb: 

  • Jika Anda ingin bohong, maka jangan ada keraguan sedikit pun ;
  • Jika Anda ingin bohong tentang sesuatu yang besar yang paling mungkin dapat Anda pikirkan, maka katakanlah terus menerus, dan orang akan berpikir bahwa kebohongan itu adalah kebenaran dan orang akan mempercayainya ;
  • Semakin besar kebohongan itu, maka akan semakin efektif  sebagai senjata.
Rupa-rupanya Presiden George Walker Bush  juga menggunakan “principle of the whopping lie” tersebut sebagai justifikasi dalam melancarkan Perang Teluk II pada tahun 2003 melawan Sadam Husein ; dengan mengatakan bahwa Irak memiliki senjata kimia (weapons of mass destruction).
.
Sebagai penutup dari renungan ini ingin disampaikan bahwa pada masa kini perang melawan musuh memiliki empat dimensi. Perang  adalah kombinasi pergulatan dalam dimensi  militer, ekonomi, politik, dan propaganda. Memenangkan suatu perang tidak cukup hanya  di front militer saja, namun harus juga menang di front ekonomi, politik dan propaganda sekaligus.
Demikianlah semoga bermanfaat !

*
“If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed.”
(Adolf-Hitler).



*