Minggu, 24 Maret 2013

Posisi Indonesia


Ngunandiko.42


Posisi Indonesia
(setelah deklarasi Millennium Development Goals tahun 2000)


    Dalam membahas Posisi Indonesia ini, dipakai sebagai acuan adalah capaian HDI  tahun 2005 dan 2009, serta GDP tahun 2005 dan 2009. Hal itu dipilih karena  pada periode itu keadaan Politik, Ekonomi, dan Sosial (Poleksos) dunia dipandang relatip stabil dan kondusif.


Menara Chicago (USA)
Seperti diketahui seluruh bangsa-bangsa di dunia telah bertekat melakukan pembangunan yang bersifat internasional dan disebut-nya sebagai “Pembangunan Milenium” atauMillennium Development”. Tujuan pembangunan tersebut resmi ditetapkan setelah Konperensi Tingkat Tinggi Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2000. Semua negara anggota PBB (193 negara) dan sejumlah organisasi internasional (lk 20 organisasi) sepakat bahwa tujuan pembangunan tersebut harus dapat dicapai pada tahun 2015.
Tulisan atau renungan ini ingin membahas posisi Indonesia setelah lebih dari satu dasawarsa berlangsungnya “Pembangunan Milenium” atauMillennium Development”.
Posisi Indonesia dibahas dengan membandingkan Indonesia dengan 9 negara lain yaitu  4 negara  yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia (Amerika Serikat, Brasilia, China, dan India) dan 5 negara yang berada di wilayah Aslia atau Asean (Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam).
Dalam melakukan perbandingan tersebut – untuk menyederhanakan pembahasan - akan dipakai  sebagai acuan  adalah besaran capaian HDI dan GDP khususnya tahun 2005 s/d 2009. Tahun-tahun tersebut dipilih karena pada saat itu keadaan Politik, Ekonomi, dan Sosial (Poleksos) dunia dipandang relatip stabil dan kondusif bagi berlangsungnya pembangunan.
Sebelum membahas lebih lanjut posisi Indonesia, maka berikut ini adalah 8 butir tujuan “Pembangunan Milenium”(Millennium Development”).

  • Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan (Eradicating extreme poverty and hunger),

  • Mencapai pendidikan dasar universal (Achieving universal primary education),
  • Mempromosikan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan (Promoting gender equality and empowering women),
  • Mengurangi angka kematian anak (Reducing child mortality rates),
  • Meningkatkan kesehatan ibu (Improving maternal health),
  • Memerangi HIV / AIDS, malaria, dan penyakit lainnya (Combating HIV/AIDA, malaria, and other diseases),
  • Memastikan  kelestarian lingkungan (Ensuring environmental sustainability), dan
  • Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan (Developing a global partnership for development).

Disamping 8 butir tujuan “Pembangunan Milenium”(Millennium Development”) tersebut, kiranya perlu pula dikemukakan mengenai pengertian  Human Development Index (HDI) dan Gross Domestic Product (GDP) sbb :
  • Human_Development_Index (HDI) adalah gabungan angka statistik dari harapan hidup, pendidikan, dan pendapatan; berdasarkan angka tersebut ditetapkan ranking suatu negara. Besaran HDI antara 0 s/d 1. (HDI is a composite statistic of life expectancy, education, and income indices to rank countries into four tiers of human development; very high human development, high human development, medium human development, and low human development), dan
  • PDB (Produk Domestik Bruto) atau Gross domestic product (GDP) adalah  nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Besaran GDP diukur dengan dolar Amerika. (Gross domestic product or GDP is the market value of all officially recognized final goods and services produced within a country in a given period of time. GDP per capita is often considered an indicator of a country's standart of living. GDP per capita is not a measure of personal income (lihat pula : Wikipedia).
Disini acuan yang dipakai dalam membahas posisi Indonesia dalam renungan ini bukan 8 (delapan) butir tujuan “Pembangunan Milenium”(Millennium Development”), melainkan hanyalah Human Development Index (HDI) dan PDB (Produk Domestik Bruto) atau Gross domestic product (GDP).

Amerika Serikat adalah negara yang berada dalam katagori “ very high human development” (HDI2011 = 0.910), sementara Indonesia termasuk dalam katagori “Low human development” (HDI2011 = 0.617)

Data yang akan dipakai adalah bersumber dari Human Development Report 2011 dan disusun dalam bentuk daftar. Seperti diketahui menurut  “Human Development Report 2011” ; katagori suatu negara dalam melaksanakan “Pembangunan Milenium (Millennium Development)” sampai akhir 2011 ditentukan oleh besaran HDI tahun 1980 s/d 2011 seperti tampak pada daftar berikut ini.

Daftar.1:Katagori Pembangunan (Development).
HDI Rank
Katagori pembangunan (development) suatu negara  
1980
1990
2000
2005
2006
2007
2008
2009
2011
..
Very high human development
0.766
0.810
0.858
0.876
0.879
0.882
0.885
0.885
0.889
..
High human development
0.614
0.648
0.687
0.716
0.721
0.728
0.733
0.734
0.742
..
Medium human development
0.420
0.480
0.548
0.587
0.595
0.605
0.612
0.618
0.630
..
Low human development
0.316
0.347
0.383
0.422
0.430
0.437
0.443
0.448
0.456
 
Misalnya  suatu negara pada tahun 1980 ada pada katagori pembangunan : ”Very high human development” (lihat daftar.1), maka negara tersebut harus memiliki HDI sedikitnya sebesar 0.766, dan pada tahun 1990 harus memiliki HDI sedikitnya sebesar 0.810 dan seterusnya. Demikian juga halnya untuk katagori pembangunan lainnya.
Sedangkan Daftar No.2 berikut ini menggambarkan tingkat (rank) dan perkembangan HDI dari 10 negara terpilih dari tahun 1980 s/d 2011.

Daftar.2 :Rank & perkembangan pembangunan 10 negara.
HDI Rank
Country
1980
1990
2000
2005
2006
2007
2008
2009
2011
4
 Amerika Serikat
0.837
0.870
0.897
0.902
0.904
0.905
0.907
0.906
0.910
26
 Singapura
..
..
0.801
0.835
0.843
0.850
0.855
0.856
0.866
61
 Malaysia
0.559
0.631
0.705
0.738
0.742
0.746
0.750
0.752
0.761
85
 Brazil
0.549
0.600
0.665
0.692
0.695
0.700
0.705
0.708
0.718
101
 China
0.404
0.490
0.588
0.633
0.644
0.656
0.665
0.674
0.687
103
 Thailand
0.486
0.566
0.626
0.656
0.661
0.670
0.672
0.673
0.682
112
 Philipina
0.550
0.571
0.602
0.622
0.624
0.630
0.635
0.636
0.644
124
 Indonesia
0.423
0.481
0.543
0.572
0.579
0.591
0.598
0.607
0.617
128
 Vietnam
..
0.435
0.528
0.561
0.568
0.575
0.580
0.584
0.593
134
 India
0.344
0.410
0.461
0.504
0.512
0.523
0.527
0.535
0.547

Sementara itu  populasi, rank HDI, dan katagori development dari 10 negara terpilih tampak seperti daftar.3 berikut ini.

Daftar.3 : Population,rank-HDI & development.
NEGARA

POPULATION
Rank-HDI

Development
Amerika Serikat



315,000000
4




Very high human development
Singapura

5,000,000
26

High human development
Malaysia

30,000,000
61

High human development
Brazil


194,000,000
85


Medium human development
China


1,394,000,000
101


Medium human development
Thailand


66,000,000
103


Medium human development
Philipina


92,000,000
112


Medium human development
Indonesia

238,000,000
124

Low human development
Vietnam

88,00040,000
128

Low human development
India

1,210,000,000
134

Low human development
Catatan : Angka-angka jumlah penduduk (population) dibulatkan

Dari daftar tersebut diatas dapat disimpulkan :
  • Satu negara ada pada katagori "very high human development" (Amerika Serikat), dua negara " high human development" (Singapura dan Malaysia), empat negara medium human development (Brazil, China, Philipina, dan Thailand) dan tiga negara "low human development" (India, Indonesia dan Vietnam).
  • Jumlah penduduk Indonesia tahun 2011 lk 238 juta orang berada diurutan ke-4 setelah China  lk 1,394,000,000 ( urutan ke-1), India lk 1,210,000,000 ( urutan ke-2), dan Amerika Serikat  lk 315,000000 (urutan ke-3) ,
  • Rank-HDI Indonesia ada diurutan ke 124 dunia atau diurutan ke-8 dari 10 negara terpilih. Seperti telah dijelaskan Indonesia termasuk dalam katagori “Low human development”
Hutan di Brazil

  • Sementara itu Amerika Serikat adalah negara yang berada dalam katagori “ Very high human development” (Rank-HDI ke-4), sementara Brazil dan China termasuk dalam katagori “Medium human development” (Rank-HDI ke 84 dan ke-101), serta India termasuk dalam katagori “Low human development” (Rank-HDI ke 134).
HDI2005, HDI2009, dan RankHDI dari 10 negara terpilih dapat dilihat pada daftar.4 berikut ini.

Daftar.4 : HDI2005, dan HDI2009
NEGARA
HDI2005
HDI2009

Rank-HDI
Amerika Serikat
0.902
0.906
4
Singapura
0.835
0.856
26
Malaysia
0.738
0.752
61
.Brazil
0.692
0.708
85
China
0.633
0.674
101
Thailand
0.656
0.673
103
Philipina
0.622
0.636
112
Indonesia
0.572
0.607
124
Vietnam
0.561
0.584
128
India
0.504
0.535
134


Laju capaian HDI dalam pembahasan ini ditetapkan berdasar capaian HDI tahun 2005 s/d 2009, besarnya tampak seperti daftar.5 Laju capaian  HDI (VHDI) tersebut dihitung dengan formula : VHDI2005-09 adalah HDI2009 minus HDI2005 dibagi 5 atau VHDI2005-09 = (1/5). (HDI209 -HDI2005). 

                        Daftar.5 : HDI2005, HDI2009, dan VHDI2005-09
NEGARA
HDI2005
HDI2009

VHDI05-09
Amerika Serikat
0.902
0.906
0.0008
Singapura
0.835
0.856
0.0042
Malaysia
0.738
0.752
0.0068
Brazil
0.692
0.708
0.0032
China
0.633
0.674
0.0092
Thailand
0.656
0.673
0.0034
Philipina
0.622
0.636
0.0028
Indonesia
0.572
0.607
0.0070
Vietnam
0.561
0.584
0.0046
India
0.504
0.535
0.0062
                       Catatan : VHDI2005-09 = (1/5). (HDI209 -HDI2005).

Dari daftar 4 dan 5 dapat disimpulkan bahwa :
  • Laju capaian HDI (VHDI2005-09) yang tertinggi diantara 10 negara terpilh adalah China sebesar 0.0092 . Di urutan ke-2 adalah   Indonesia sebesar.0.0070 .
  • Laju capaian HDI (VHDI2005-09) yang terendah diantara 10 negara terpilih adalah Amerika sebesar 0.0008. 
  • Amerika Serikat dengan laju capaian HDI (VHDI2005-09) yang terendah (0.0008), memungkinkan China (0.0092), Indonesia (0.0070), dan lain lain – yang memiliki laju capaian lebih besar –  dapat mengejar HDI Amerika Serikat. Walaupun hal itu akan memerlukan waktu yang lama, karena selisih yang harus dikejar cukup besar ; misalnya HDI Amerika Serikat  tahun 2011 telah mencapai 0.910 sedangkan China baru mencapai 0.687 (selisih 0.323).

Laju capaian HDI tahun 2005 s/d 2009 (VHDI2005-09) dari 10 negara terpilih  menunjukkan bahwa China memiliki kemungkinan menyamai Rank HDI Amerika Serikat tercepat pertama lk 25 tahun mendatang, dan Indonesia tercepat  kedua lk 35 tahun.

Dam di China

Diperkirakan (dengan cara yang sederhana) berdasar data HDI 2005 s/d 2009, maka China, Indonesia, Vietnam, India akan dapat mengejar Human Development Index HDI Amerika ;  masing-masing memerlukan waktu yang cukup panjang yaitu lebih kurang  25 tahun, 35 tahun, 45 tahun, dan 65 tahun.

Sementara itu daftar.6 menggambarkan perkembangan GDP per kapita per tahun dari 10 negara terpilih  tahun 1980 s/d 2011, serta rank-nya (HDI Rank) diantara negara-negara di dunia.anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).





Daftar.6 :  Perkembangan GDP 10 negara.
HDI Rank
Country
1980
1990
2000
2005
2006
2007
2008
2009
4
Amerika Serikat
25,531
31,926
39,578
42,534
43,257
43,662
43,261
41,761
26
Singapura
14,453
23,429
36,793
45,374
47,776
49,739
48,002
45,978
61
Malaysia
4,891
6,646
10,271
11,755
12,222
12,788
13,163
12,724
85
Brasilia
7,572
7,179
7,921
8,505
8,744
9,181
9,562
9,414
101
China
524
1,101
2,667
4,115
4,611
5,239
5,712
6,200
103
Thailand
2,231
3,961
5,568
6,751
7,038
7,333
7,469
7,260
112
Philipina
2,618
2,385
2,587
2,927
3,027
3,181
3,240
3,216
124
Indonesia
1,361
2,087
2,727
3,217
3,352
3,521
3,689
3,813
128
Vietnam
..
902
1,597
2,143
2,291
2,455
2,578
2,682
134
India
895
1,244
1,769
2,300
2,479
2,686
2,781
2,993
Catatan : GDP per kapita (2005 PPP), GDP  merupakan salah satu elemen pembentuk HDI

Sedangkan daftar.7 berikut ini menggambarkan GDP2005, GDP2009 dan V-GDP (laju capaian GDP tahun 2005 s/d 2009) dari 10 negara terpilih. Laju capaian GDP (VGDP2005-09) tersebut dihitung dengan formula : VGDP2005-09 sama dengan GDP2009 minus GDP2005 dibagi 5 atau  VGDP2005-09 =      1/5.( GDP2009 - GDP2005).

Daftar.7: GDP2005, GDP2009  &  V-GDP
NEGARA
GDP2005
GDP2009
  V-GDP
Amerika Serikat
42,530
41,761
-154
Philipina
 2,927
 3,216
58
Thailand
 6,751
 7,260
102
Vietnam
 2,143
 2,682
108
Indonesia
 3,217
 3,813
119
Singaoura
45,374
45,978
121
India
 2,300
 2,993
139
Brazil
 8,505
 9,414
182
Malaysia
11,766
12,724
192
China
 4,115
 6,200
417
                          Catatan:VGDP2005-09 = 1/5.(GDP2009 - GDP2005).

Dari daftar.6 – serta memperhatikan angka-angka dalam daftar. 1, 2, 3, 4, 5 dan 7 dapat disimpulkan bahwa:
  • Capaian GDP Indonesia tahun 2005 dan 2009 masing-masing sebesar USD 3,217 dan USD 3,813 per kapita per tahun.  Sedangkan laju capaian GDP (V-GDP) Indonesia adalah sebesar USD 119 per kapita per tahun.
  • Laju capaian GNP (V-GDP) per kapita per tahun Amerika Serikat adalah terkecil diantara 10 negara  terpilih (minus USD 154 per kapita per tahun). Sementara itu laju capaian GDP (V-GDP) China adalah USD 317 per kapita per tahun atau terbesar diantara 10 negara terpilih. Laju capaian GNP (V-GDP) per kapita per tahun Amerika Serikat yang terkecil tersebut berarti adanya kemungkinan dari  negara-negara  lainnya  mengejar GNP per kapita per tahun Amerika Serikat dimasa-masa mendatang. China adalah yang memiliki kemungkinan  paling cepat, diikuti oleh Malaysia, Brasil dan seterusnya.
  • Untuk dapat mengejar GNP per kapita per tahun Amerika Serikat, maka Brazil, China dll akan memerlukan waktu yang lama, karena perbedaan  titik awal (starting point) yang besar. Sebagai contoh : GDP per kapita per tahun Amerika Serikat pada tahun 2009 = USD 41,761 ; GDP per kapita per tahun Brazil pada tahun 2009 =  USD 9,414 ( lk 1/4 GDP Amerika Serikat) ; .dan GDP per kapita per tahun China pada tahun 2009 = USD 6,200( lk 1/7 GDP Amerika Serikat)   
  • Diperkirakan GDP per kapita per tahun Brazil, China, India, Malaysia, dan Indonesia akan dapat menyamai GDP per kapita per tahun Amerika  masing-masing  memerlukan waktu lk 100 tahun,      65 tahun, 135 tahun, 85 tahun, dan 140 tahun. Hal itu terjadi jika keadaan “Politik, Ekonomi, dan Sosial (Poleksos)” dunia dalam waktu yang panjang dalam keadaan yang lebih kurang tetap seperti keadaan pada 2005 s/d 2009..
Sebelum menutup pembahasan dan renungan ini, kami ingin mengemukakan kembali beberapa-hal yang berkaitan dengan posisi Indonesia pada saat ini (2012) antara lain sebagai berikut :

Pendidikan di Indonesia
  • Jumlah penduduk Indonesia (lk 238 juta orang) berada diurutan ke-4 dari 10 negara terpilih sekaligus dari seluruh negara di dunia.
  • Dari sisi pembangunan (development) Indonesia dalam katagori “Low human development” (HDI2011 = 0.617) dengan HDI Rank 124. China dalam katagori “medium human development” (HDI2011 = 0.687) dengan HDI Rank 101, dan Amerika Serikat adalah negara yang berada dalam katagori “ very high human development” (HDI2011 = 0.910) dengan HDI Rank 4.
  • Dari sisi laju capaian HDI (VHDI) dari tahun 2005 s/d 2009, maka tampak bahwa yang tertinggi diantara 10 negara terpilih adalah China sebesar 0.0092 ;  Indonesia adalah 0.0070 diurutan ke-2. Dan yang terendah atau diurutan ke-10 adalah Amerika Serikat sebesar 0.0008.
  • Laju capaian HDI (VHDI) tahun 2005 s/d 2009 dari 10 negara terpilih tersebut menunjukkan bahwa China memiliki kemungkinan menyamai  Rank HDI Amerika Serikat tercepat pertama yaitu lk 25 tahun mendatang, dan Indonesia tercepat  kedua yaitu lk 35 tahun mendatang..
  • Dari sisi laju capaian GDP (VGDP) dari tahun 2005 s/d 2009, maka tampak bahwa yang berada diurutan ke-1 diantara 10 negara terpilih adalah China (USD 417 per kapita per tahun), dan diurutan ke-2 adalah Malaysia (USD 192 per kapita per tahun)  Oleh karena itu China memiliki kemungkinan dapat menyamai GNP Amerika Serikat tercepat pertama  yaitu lk 65 tahun mendatang, dan Malaysia tercepat kedua yaitu lk 85 mendatang.
  • Usaha negara-negara seperti China, India, Indonesia, dan Brazilia dalam mengejar kemajuan Amerika Serikat – Amerika Serikat dipandang sebagai tanda (benchmark) kemajuan dunia –  di aspek non ekonomi lebih cepat daripada di aspek ekonomi. Hal ini tampak dengan lebih cepatnya Rank HDI Amerika Serikat  terkejar (disamai) daripada GDP, sebagai contoh HDI Amerika Serikat akan disamai oleh China  dan Indonesia masing-masing dalam waktu lk 25 tahun dan 35 tahun mendatang, sedangkan    GDP masing-masing dalam waktu lk 65 tahun dan 140 tahun  mendatang.
  • Lambatnya negara-negara mengejar Amerika Serikat khususnya dalam mengejar tingkat besarnya GDP dapat diduga karena perbedaan yang cukup besar dalam hal penguasaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri. Seperti diketahui pada waktu ini Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Industri Amerika Serikat tidak dapat disangkal adalah yang terkemuka di dunia.
Akhirnya mengingat banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi jalannya “Pembangunan Milenium” atauMillennium Development” terutama faktor yang berkaitan dengan dinamika perubahan “Politik, Ekonomi, dan Sosial (Poleksos)” di masing-masing negara dan di dunia, maka renungan dan pembahasan tentang “Posisi Indonesia” ini pasti mengandung kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini ingin kami kemukakan pula bahwa koreksi dan kritik dari manapun datangnya terhadap renungan dan pembahasan ini  akan sangat kami harapkan.
Semoga pembahasan dan renungan ini bermanfaat!

*
The development of civilization and industry in general has always shown itself so active in the destruction of forests that everything that has been done for their conservation and production is completely insignificant in comparison.
(Karl Marx)

*
  If the Russian word 'perestroika' has easily entered the international lexicon, it is due to more than just interest in what is going on in the Soviet Union. Now the whole world needs restructuring; that is, progressive development,     a fundamental change
(Gorbachev).
*

Senin, 18 Februari 2013

Tan Malaka




Ngunandiko. 40


Tan Malaka
(Tokoh Pemikir & Pejuang Yang Luar Biasa)

Pada tanggal 19 Pebruari 2004 dalam rangka memperingati 55 tahun hilangnya pahlawan Kemerdekaan Nasional Tan Malaka telah dilangsungkan "Seminar" dengan thema:   "Belajar dari Gagasan dan Kehidupan Tan Malaka".
Seminar tersebut diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Universitas Indonesia (KSM-UI) Eka Prasetya bekerja sama dengan Lembaga Penelitian & Pengabdian     Masyarakat Tan Malaka (LPPM- Tan Malaka) bertempat di Auditorium Magister Perencanaan Kebijaksanaan Publik (MPKP) Fakultas Ilmu Sosial & Politik Universitas Indonesia, Depok.
Pada kesempatan seminar tersebut telah berbicara:

  • DR. Harry A. Poeze (Redaksi Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde serta anggota Partai Sosial Demokrat, Belanda),
  • DR. Pheni Chalid (dosen Ilmu Filsafat Universitas Nasional, Jakarta), dan
  • Ir. Santoso Kismomihardjo MM (Ketua Umum Himpunan Cendekiawan Republik Indonesia: HCRI, dan Anggota MPR-RI periode 1999 - 2004)
Berikut ini disampaikan kembali (dalam rangka memperingati 64 tahun hilangnya Tan Malaka) apa yang telah dikemukakan oleh Sdr. Ir. Santoso Kismomihardjo MM pada 19 Pebruari 2004 dalam kesempatan seminar tersebut.


I.       Pendahuluan.

Rapat gelap Bung Karno & Tan Malaka
Salah satu hal yang patut kita syukuri dari bangsa Indonesia adalah masih cukup besarnya perhatian terhadap kondisi pada masa yang lalu. Hal tersebut terlihat dari banyaknya tulisan tentang tokoh politik, pemimpin bangsa, pemimpin masyarakat dan lain-lain yang bermunculan seperti tulisan tentang : Sukarno, Hatta, Natsir, Iwa Kusumasumantri, Sutan Syahrir, Ali Satroamidjojo, Muhamad Roem, Hamka, Jenderal Sudirman, Adam Malik , Sukarni, Chaerul Saleh, Jenderal Soeharto, Sultan Hamengkubuwono IX, KH Abdulrahman Wahid dan lain-lain.
Melalui tulisan-tulisan itu secara tidak langsung masyarakat dapat melihat perkembangan situasi dan juga sejarah Indonesia dari berbagai sudut pandang dan dari berbagai kurun waktu. Hal itu menyebabkan timbulnya persepsi tentang Indonesia pada masa yang lalu secara obyektip, sehat, jujur ​​dan proposional . Sudah barang tentu persepsi tersebut akan lebih sempurna jika tulisan tentang tokoh-tokoh tersebut juga dibahas dan didiskusikan secara terbuka seperti yang terjadi pada seminar dalam rangka peringatan 55 tahun hilangnya Tan Malaka ini.

II. Tan Malaka pemikir dan pejuang.

Tan Malaka (unknown - 19 Pebruari 1949) atau lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka - yang gagasan dan kehidupannya akan kita bahas kembali dalam seminar ini - adalah salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia yang luar biasa.
Sikap Tan Malaka terhadap berbagai peristiwa sejarah di Indonesia pada masa penjajahan Belanda maupun pada masa awal Revolusi Kemerdekaan masih sering menjadi perdebatan hingga saat ini. Demikian juga pandangan-pandangannya tentang ekonomi, politik, sosial dan lain-lain sampai saat ini juga masih sering menjadi acuan.
Sebagai pemikir dan pejuang sikap dan pandangan Tan Malaka tersebut tampak dalam tulisan-tulisannya yang mencerminkan pemikiran serta ke-cendekiawanan-nya masih terus disimak dan dipakai petunjuk oleh berbagai kalangan; terutama yang berpihak rakyat banyak sampai saat ini.

1. Sikap dan pandangan Tan Malaka.
                
Tan Malaka & Sukarni

Sampai saat ini sikap dan pandangan Tan Malaka masih sering menjadi bahan perdebatan. Sikap dan pandangan yang sering menjadi bahan perdebatan tersebut antara lain tentang hal-hal sebagai berikut:

  • Pemberontakan PKI 1925 - 1926 [1]
Tan Malaka tidak dapat menyetujui pemberontakan terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu yang dipelopori oleh Partai Kumunis Indonesia (PKI), Hal itu terutama karena dilakukan dengan mengabaikan kekuatan partai yang masih sangat lemah, dan dilakukan dengan cara putch (coup de 'etat atau  kudeta ) bukan dengan cara "massa aksi" yang menjadi keyakinannya ,

  •   Kolaborasi dengan Jepang 1942 - 1945 [2]
Kritik Tan Malaka terhadap pimpinan politik dan pimpinan masyarakat Indonesia khususnya Bung Karno yang melakukan kolaborasi dengan tentara pendudukan Jepang.
  •   Pembentukan partai-partai politik pada tahun 1945.
Terhadap anjuran Pemerintah kepada masyarakat untuk membentuk partai-partai politik beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 melalui Informasi Wakil Presiden No.X Tan Malaka menentangnya. Tan Malaka memandang pembentukan partai-partai pada waktu itu akan memperlemah kekuatan revolusi.

  •   Diplomasi yang lembek 1945 - 1949 [3]
Pada awal Revolusi Kemerdekaan 1945 Tan Malaka menentang diplomasi yang lembek pemerintah Republik Indonesia dalam menghadapi Belanda yang akan menjajah Indonesia kembali. Diplomasi yang lembek tersebut telah menghasilkan kesepakatan Linggarjadi, perjanjian Renville dan lain-lain.


Disamping hal-hal tersebut diatas, Tan Malaka juga memiliki pandangan yang jauh kedepan tentang dunia; pandangan tersebut antar lain tentang kemungkinan terbentuknya gabungan negara-negara yang terletak diantara benua Asia dan benua Australia yang beriklim tropis ASLIA ( Ngunandiko.7 Asean & Aslia )

2. Karya-tulis Tan Malaka .

Seperti diketahui sikap dan pandangan Tan Malaka tersebut diatas telah dituangkannya dalam sejumlah karya tulis. Disamping menggambarkan sejumlah gagasan, karya tulis tersebut juga menggambarkan karakter dan ke-cendekiawanan Tan Malaka. Sebagian besar karya tulis Tan Malaka berisikan impiannya tentang Indonesia yang maju dan modern, indikasi untuk mencapai impian tersebut, dan cara berpikir yang harus dimiliki rakyat Indonesia. Hal-hal itu sampai saat ini masih relevan untuk disimak dan dipraktekkan.
Karya tulis Tan Malaka yang menggambarkan karakter, gagasan, dan kecendekiawanannya sebagai pejuang berjumlah lebih dari 27 tulisan diantaranya adalah:
  • Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, 1922)
  •   Massa Actie (Aksi Massa, 1962)
  • Gerilya Politik & Ekonomi (Gerpolek, 1947) 
  •  Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog, 1942-1943)
  • Dari Penjara ke Penjara (Otobiografi)
Tulisan-tulisan tersebut telah dicetak berkali-kali dan diterjemahkan ke sejumlah bahasa.

III. Kehidupan Tan Malaka

Kehidupan dan gagasan-gagasan Tan Malaka tergambar dengan jelas dalam otobiografinya "Dari Penjara ke Penjara", dan memang begitulah perjalanan hidup dan perjuangannya. Sebagian besar hidupnya dipenjara dan dipembuangan di dalam maupun di luar negeri, meskipun demikian Tan Malaka mampu merekam dan menuangkannya kembali perjalanan hidup-nya tersebut kedalam suatu tulisan dengan bahasa yang kuat dan jelas.
Hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk memperjuangkan gagasan-gagasannya, disamping itu kehidupannya juga mengandung sejumlah misteri. Sebagian dari para pengikutnya memandangnya sebagai tokoh legendaris yang selalu berpihak pada rakyat banyak. Bahkan secara dramatis perjuangan Tan Malaka diceritakan sebagai petualangan PACAR MERAH Indonesia [4] yang selalu menjadi buruan polisi kolonial.
Penghargaan formal dari negara Republik Indonesia hanyalah berupa Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.53 tertanggal 28 Maret 1963, dimana almarhum Tan Malaka telah ditetapkan sebagai pahlawan Kemerdekaan Nasional.

IV. Penutup.

Seminar hari ini dengan thema "Belajar dari Gagasan dan Kehidupan Tan Malaka" dalam rangka memperingati 55 tahun hilangnya Tan Malaka - yang diselenggarakan dan diikuti oleh pemuda & mahasiswa - mudah-mudahan dapat membawa tercapainya pengenalan terhadap gagasan dan kehidupan Tan Malaka secara lebih baik. Dengan demikian Tan Malaka secara utuh akan lebih dikenal dan dipahami, yang pada gilirannya sikap dan pandangannya dapat memberi kontribusi yang positip bagi kemajuan bangsa ini.

*
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
 (Peribahasa Indonesia) .


*


[1] Tan Malaka; Dari Penjara ke Penjara Jilid I, Yayasan Massa 1980, hal 143
[2] Tan Malaka; Dari Penjara ke Penjara Jilid II, Yayasan Massa 1980, hal 162 - 166
[3] Tan Malaka; Dari Penjara ke Penjara Jilid III, Yayasan Massa 1980, hal  254
[4] Matu Mona: Pacar Merah Indonesia, Penerbit Jendela dan Perwakilan KITLV, 2001

Minggu, 20 Januari 2013

Perbudakan


Ngunandiko.37

Perbudakan 1.
(slavery)

Perbudakan (slavery) adalah keadaan dimana orang dipaksa untuk patuh kepada tuan-nya, hal  itu sudah berlangsung sejak dahulu kala. Keadaan tersebut mumgkin terjadi akibat suatu perang, dimana pemenang perang yang ganas membunuh musuh-musuh yang dikalahkannya dan merampas perempuan-perempuan mereka. Sedangkan  pemenang perang  yang memiliki rasa belas kasihan menjadikan musuh-musuh yang dikalahkannya sebagai budak (The New Book of Knowledge, Grolier Incorporated, Connecticut).

Budak siap diangkut

Pada saat belum ada yang tahu apa yang harus dilakukan terhadap tawanan perang, maka tawanan perang tersebut dibunuh oleh fihak yang menang perang, bahkan pada periode yang lebih awal tawanan perang itu  dimakan. Tetapi pada tahap dimana “ekonomi” telah dikenal, maka disadari bahwa dari para tawanan tersebut dapat diperoleh suatu nilai ekonomi antara lain dengan membiarkan para tawanan perang tetap hidup dan  berguna  sebagai tenaga kerja. Pada saat itu-lah dengan sendirinya “perbudakan” tercipta.
Sesudah itu perbudakan segera menjadi faktor dominan dalam produksi di antara semua masyarakat maju setelah berakhirnya masyarakat tua. Hal itu terus berlangsung dalam waktu yang panjang, bahkan sampai pada waktu ini walaupun dalam bentuk yang berbeda. 
Perbudakan telah tercatat dalam “Kode Hammurabi”, seperti diketahui Hammurabi adalah raja Babylonia pada periode 1795 –1750 Sebelum Masehi (BC). Dalam Kode Hammurabi tersebut terdapat pasal-pasal berkaitan dengan perlakuan terhadap budak antara lain hak memperdagangkan dan memiliki budak, disamping itu budak juga dapat dibebaskan secara formal karena rasa kemanusian, adopsi, atau dengan membeli kebebasan mereka sendiri.

Sejarah perbudakan mungkin terdengar asing bagi kebanyakan bangsa Indonesia. Banyak yang berpikir bahwa perbudakan hanya dialami oleh orang hitam dari Afrika, yang dibawa oleh para pedagang budak ke Benua Amerika. Sejarah perbudakan ternyata juga sangat dekat denga sejarah bangsa Indonesia. Pada 1 Juli 1863, Belanda sebagai salah satu pedagang budak terbesar di dunia pada masa itu ;  secara resmi menghapuskan perbudakan di semua wilayah jajahannya termasuk Hindia Belanda (Indonesia). Tanggal 1 Juli 1863 tersebut juga menjadi tonggak sejarah bagi kebebasan  para budak Afrika yang dibawa oleh Belanda ke wilayah-wilayah jajahan Belanda.  
Seperti diketahui pada masa VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie), berdasarkan Undang-Undang Batavia tahun 1642 perbudakan  diperkenalkan oleh Belanda di Indonesia. Perbudakan tersebut sebagian besar terjadi di Jawa, namun budak-budak  berasal dari daerah-daerah yang ditaklukkan oleh Belanda di luar Jawa. Misalnya dari pulau Banda yang ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1621 ada sebanyak 883 orang  dibawa ke pulau Jawa untuk dijual sebagai budak, namun 176 orang mati dalam perjalanan.
Sesungguhnya perdagangan budak di dunia  telah berlangsung sejak ribuan tahun sebelumnya, terutama di zaman Romawi. Budak yang diperdagangkan di pasar budak adalah rakyat, serdadu, perwira, dan bahkan bangsawan dari negara-negara yang kalah perang dan kemudian dijual sebagai budak. 
Selama Perang Salib (berlangsung lk 2 abad lamanya), ratusan ribu orang dari berbagai etnis yang ditawan, lalu dijual sebagai budak sehingga membanjiri pasar budak, dan mengakibatkan anjloknya harga budak pada waktu itu. Namun dari abad 15 sampai akhir abad 19, banyak negara  atau wilayah di Asia, Afrika dan Amerika menjadi koloni negara Eropa (British Empire & Co). Hal itu menyebabkan perdagangan budak menjadi marak kembali terutama di benua Amerika, di mana para kolonialis memerlukan tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan.

Patut dicatat bahwa di Amerika Serikat yang dikenal sebagai sokoguru demokrasi, perbudakan secara resmi dihapus tahun 1865. Sementara itu warga-nya yang berkulit hitam masih  harus menunggu lk satu abad agar memperoleh hak memilih dan dipilih, namun akhirnya kini di abad ke-21 ada warganya yang berkulit hitam menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.(Presiden Obama)

Belanda memiliki 2 pusat perdagangan budak di Afrika. yaitu  di St. George d’Elmina (Gold Coast sekarang Ghana) dan di Pulau Goree (Senegal). Melalui kedua pusat perdagangan tersebut Belanda membawa budak-budak yang dibeli dari orang-orang Arab (pedagang budak) ke berbagai tempat yang memerlukannya. Pedagang-pedagang budak tersebut bekerjasama dengan orang-orang Afrika menculik warga Afrika dari desa-desa di pedalaman Afrika dengan tak pandang bulu (laki-laki, perempuan atau anak-anak) kemudian dijualnya sebagai budak.
Selama kurun waktu lebih dari 3 abad, berjuta-juta orang Afrika diculik dan dijual sebagai budak. Budak-budak tersebut dibawa dengan kapal ke negara-negara pembeli, mereka disekap secara tidak manusiawi – termasuk anak-anak dan perempuan – berjejal-jejal didalam tong atau ruang-ruang sempit tanpa ada sinar matahari, udara, dan air bersih yang cukup. Lebih dari 20%  budak-budak tersebut mati di tengah jalan, karena penyakit, mogok makan, siksaan atau bunuh diri, bahkan budak-budak yang dibawa ke benua Amerika mencapai 40-50% mati dalam perjalanan.

Belanda selain me-rekrut orang-orang Eropa dan pribumi sebagai serdadu di dinas ketentaraan Hindia Belanda, Belanda juga me-rekrut sejumlah mantan budak yang dibelinya dari Afrika. Serdadu atau tentara yang berasal dari mantan budak tersebut terkenal dengan sebutan"Belanda Hitam (Zwarte Nederlander)".

Zwarte Nederlander
.
Belanda membeli budak di Gold Coast (Ghana) Afrika Barat sejak tahun 1830, dan melalui St George d’Elmina mereka dibawa ke India Belanda untuk dijadikan serdadu. Untuk mendapatkan budak,  Belanda membayar kepada seorang Raja di Afrika sebesar f 100 per orang. Sampai tahun 1872 jumlah budak-budak tersebut mencapai 3.000 orang, dikontrak untuk selama 12 tahun atau lebih. Berdasarkan peraturan kewarganegaraan Belanda (Nationaliteitsregelingen) budak yang menjadi tentara  masuk kategori berkebangsaan Belanda, mereka disebut sebagai Belanda Hitam (zwarte Nederlander).
Belanda Hitam tersebut tidak mendapat kesulitan dengan iklim di Indonesia, sehingga menjadi tentara yang tangguh dan berharga bagi Belanda. Mereka menerima bayaran sama dengan tentara Belanda, namun mereka harus mencicil uang tebusan sebesar f 100 dari gaji yang diterimanya, walaupun orang-orang itu telah berjasa bagi Belanda dalam mempertahankan kekuasaannya di Hindia Belanda. Belanda tidak mau rugi!
Sebagian besar dari Belanda Hitam (zwarte Nederlander) tersebut ditempatkan di daerah Purworejo, pada tahun 1950 tersisa sekitar 60 keluarga Indo-Afrika ; yang kemudian dibawa oleh pemerintah Belanda ke negeri Belanda dalam rangka “repatriasi.”

Dapat dikemukakan bahwa pada periode tahun 1679 s/d tahun 1699, lebih dari 50% (lima puluh persen) penduduk Batavia adalah budak.

Budak di Jawa
Pada akhir abad ke-18 kekuasaan  VOC pindah ke tangan Pemerintah India-Belanda, perdagangan budak berlangsung terus dan hanya terhenti selama beberapa tahun ketika Inggris berkuasa di Hindia-Belanda (The British inter-regnum).
Seperti diketahui perang koalisi di Eropa berpengaruh terhadap masalah perbudakan di Hindia-Belanda. Ketika Inggris menaklukkan Belanda, maka kekuasaan Belanda di Hindia Belanda beralih ke tangan Inggris (1811), kemudian  Gubernur Jenderal Raffles (Inggris) melarang perdagangan budak.
Dengan adanya perjanjian perdamaian di Eropa, maka Belanda  menerima kembali India-Belanda dari tangan Inggris(1816). Pada tahun itu juga Pemerintah India Belanda memberlakukan kembali perdagangan budak.
Jumlah budak yang dimiliki oleh Belanda (VOC) di Batavia dan sekitarnya (Jawa) selama periode 1780 – 1844 dapat digambarkan dengan angka-angka sebagai berikut :




Jumlah budak milik Belanda (VOC) di Batavia
(1780 – 1844)
No.
Tahun
Jumlah (orang)
Keterangan
01
1789
36,942

02
1815
23,239

03
1828
6,170

04
1844
1,365





  • Sebagai catatan dapat pula dikemukakan disini bahwa antara tahun 1679 – 1699, lebih dari 50% penduduk Batavia adalah budak (lihat pula sejarah VOC).
Sementara itu sebelum Belanda menghapuskan sistem perbudakan di wilayah yang ada dibawah kekuasaannya (1863), ternyata di berbagai penjuru dunia perbudakan juga telah dihapuskan oleh penguasa wilayah dimana perbudakan tersebut berada. Hal itu antara lain dapat dilihat dari gambaran sbb :
  • Diwilayah-wilayah yang berada dibawah bendera Perancis pada tahun 1794 sistem perbudakan dihapuskan oleh  pemerintahan revolusi Perancis, di koloni-koloni penghapusan sistem perbudakan tersebut ditegaskan kembali oleh Napoleon pada tahun 1802. Di wilayah-wilayah sisanya penhapusan secara penuh terjadi pada tahun 1804.
  • Pada tahun 1804 Haiti menjadi negara pertama yang bebas dari sistem perbudakan di di wilayah bumi bagian Barat, kemudian diikuti oleh koloni-koloni Spanyol di Dunia Baru (benua Amerika). Hal itu adalah sebagai akibat perang kemerdekaan yang berlangsung pada tahun 1810 dan 1825.
  • Dengan disahkannya Great Britain’s Act pada tahun 1833 oleh Kerajaan Britania Raya, maka sistem perbudakan di wilayah Kerajaan Britania Raya (British Empire) ber-akhir.
  • Proklamasi Emansipasi oleh Abraham Lincoln (1863) dan kemenangan Utara dalam Perang Saudara membebaskan Amerika Serikat dari sistem perbudakan.
  • Emansipasi pada tahun 1888 telah mengakhiri sistem perbudakan di Brasilia.
Perlu dikemukakan bahwa hapusnya sistem perbudakan sesungguhnya tidak semata-mata karena belas kasihan dari para penguasa seperti gambaran diatas, para budak sendiri melalui berbagai cara telah menentang sistem perbudakan tersebut, namun hal itu tidak banyak tercatat secara menonjol dalam sejarah. Beberapa peristiwa menonjol yang menggambarkan sikap menentang para budak terhadap sistim perbudakan dapat dilihat dari beberapa peristiwa sbb :
  • Di Amerika pada awal abad ke-19 Masehi ada juataan orang budak, sebagian dari mereka – terutama budak “Pekerja Tangan”  yang kehidupannya paling berat dan diperlakukan dengan kejam – sering melakukan protes terhadap kondisinya yang buruk atau melarikan diri. Budak-budak yang melarikan diri tersebut kemudian mendirikan komunitas (free communities),  di Yamaika disebut Maroon.
  • Budak-budak di Haiti bangkit, mengusir tuan-tuan mereka, dan kemudian diakui sebagai bangsa merdeka (1804),
  • Di semenanjung Korea pada masa Dynasty Joseon "Chuno" di abad ke-17 Masehi, para budak berontak menentang perlakuan kejam yang di alaminya,
  • Karena memperoleh perlakuan yang kejam, budak-budak Romawi telah berkali-kali memberontak. Salah satu pemberontakan budak yang terbesar terjadi pada tahun 73 AD dipimpin oleh Spartacus dari Thrace.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa andil dari para tokoh agama, sastrawan, pemikir, ilmuwan dan masyarakat luas yang tidak menyetujui perbudakan adalah sangat besar. Hal itu antara lain tampak dari :
  • Serangan terhadap sistem perbudakan dari para pemikir dan sastrawan seperti Montesquieu (1689 – 1755) dan Rousseau (1712 – 1778), serta
  • Terbentuknya masyarakat anti perbudakan (antislavery society) di Inggris (1787), di Perancis (1788) dan lain-lain.
Sebelum sistem perbudakan tersebut dapat dihapuskan, pertarungan antara fihak pro dengan anti perbudakan telah  berlangsung  lama dan sengit. Sebagai gambaran berikut ini disampaikan pertarungan antara pro dan anti perbudakan di Amerika (Amerika Serikat sekarang) dimana sampai terjadi perang saudara.
Seperti diketahui upaya untuk menghapus perbudakan di Amerika telah mendapat perlawanan yang sengit dari mereka yang setuju  perbudakan. Kompromi antara yang pro dan anti perbudakan terpaksa dilakukan seperti “Kompromi Messouri”  pada 1829     (lihat : Wikipedia) , namun tetap saja tidak memuaskan kedua belah fihak.
Pada tahun 1850 ketika ada suatu  wilayah  yang diperoleh sebagai hasil dari perang dengan Meksiko (1846-1848) lalu masuk ke United States sebagai negara bagian California (dan Wilayah New Mexico), maka Henry Clay (1777-1852) seorang anggota Kongres Kentucky-California mengusulkan :
  • Sebagian dari keputusan “Kompromi Messouri”  ditunda,   perdagangan budak dihapuskan kecuali di District of Columbia,
  • Undang-undang (UU) yang mengatur pelarian budak perlu diterapkan dengan sangat ketat, ini berarti  Utara harus secara aktif mendukung perburuan  budak yang melarikan diri dan mengembalikan budak-budak tersebut ke tuannya.
Disamping itu para `pemilik budak tetap tidak puas, karena dianggapnya masih memberi terlalu banyak kepada fihak Utara. Pada saat Kongres membahas adanya keluhan dari wilayah Kansas dan Nebraska terhadap “Kompromi Messouri”, maka Stephen A Douglas (1813 - 1861) - seorang simpatisan Selatan dari Ililinois – mengajukan Rancangan Undang Undang (RUU) yang  yang memberi keleluasan memilih antara perbudakan dan kebebasan. Hal itu dapat menghancurkan “Kompromi Missouri”  

Perasaan permusuhan antara yang pro dengan yang anti perbudakan juga terangsang oleh “UU Fugitive Slave” tahun 1850 dan oleh publikasi buku Harriet Beecher Stowe “Uncle Tom’s Cabin” pada tahun 1852, karena hal itu konflik terus menyala.

Perdebatan mengenai RUU Douglas yang disebut  sebagai “Kansas-Nebraska Act” menunjukkan adanya perbedaan tajam  antara yang pro perbudakan dengan yang anti perbudakan. Kedua belah pihak mengerahkan pengikutnya ke Kansas dengan tujuan memenangkan suara (voting). Hal tersebut menimbulkan konflik horizontal yang terpaksa harus dilerai dengan menggunakan kekuatan militer (Angkatan Darat).

Stephen Douglas

Perasaan permusuhan antara yang pro dengan yang anti perbudakan juga terangsang oleh “UU Fugitive Slave” (1850) dan oleh publikasi buku Harriet Beecher Stowe “UNCLE TOM'S CABIN” (1852), karena hal itu konflik terus berkobar. Usaha terus-menerus dari masyarakat anti perbudakan (antislavery) untuk meredam konflik ternyata tidak berhasil.

Seperti diketahui sebelum adanya gerakan anti perbudakan (antislavery) di Amerika, sejak tahun 1671 gerakan antislavery telah dimulai di Inggris. Gerakan tersebut di Inggris dipelopori oleh para Quaker (The Quakers adalah radical Christians, dikenal dgn hidupnya yg sederhana dan memiliki ethos kerja), Granville Sharp (1735-1813),   Thomas Clarkson (1760-1846), dan William Wilberforce (1750-1853). Gerakan antislavery tersebut serta adanya masyarakat anti perbudakan (antislavery society) telah  mengakibatkan hapusnya perbudakan di Inggris (1833); yaitu saat  dikeluarkannya Abolition Bill yang dicetuskan oleh Wilberforce untuk menghapuskan perbudakan.

Sementara itu para pemilik budak di bagian Selatan Amerika berpandangan bahwa upaya dari gerakan yang menginginkan hapusnya perbudakan (antislavery) yang di pelopori oleh Utara hanyalah melihat sisi negatip dari kepemilikan budak. Oleh karena itu solusi terbaik bagi Selatan adalah memisahkan diri dari  Uni (United States). Namun tidakan tersebut adalah inkonstitusional dan tidak akan berjalan tanpa menimbulkan perang. Sikap keras dari SELATAN yang tetap hendak mempertahankan perbudakan mau tidak mau menyebabkan terjadinya PERANG SIPIL.

Seperti diketahui pada tanggal 1 Januari 1863 Presiden ABRAHAM LINCOLN mengumumkan PROKLAMASI EMANSIPASI yang berarti membebaskan seluruh wilayah Amerika Serikat dari sistem perbudakan, hal itu menyebabkan meletusnya Perang Sipil. Ketika Perang Sipil yang mengerikan itu berakhir (1865), maka perubahan (amandment) konstitusi ketiga belas ditanda tangani dan secara resmi sistem perbudakan di Amerika Serikat berakhir.

Namun perbudakan dan perdagangan budak di dunia selama abad 20 tetap ada, terutama di beberapa bagian  dari Afrika, Arab dan Asia. Dengan berjalannya waktu pada tahun 1926 ada 30 anggota Liga Bangsa Bangsa (The League of Nations) meratifikasi konvensi pelarangan perbudakan  dan perdagangan budak. Hal itu antara lain sebagai akibat tekanan   Liga Bangsa Bangsa. Afghanistan menghapuskan perbudakan pada tahun 1923, Nepal pada tahun 1925, Transjordan dan Persia (Irak & Iran) pada tahun 1929, Bahrain pada tahun 1937 dan Ethiopia pada tahun 1942.

Pada tahun 1948 The United Nations General Assembly atau Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah mengadopsi “Universal Declaration of Human Right” yang secara eksplisit mengutuk perbudakan dan perdagangan budak dalam segala bentuk. Sejak saat itu telah dilakukan banyak langkah untuk implementasinya. Pada waktu ini hampir semua semua negara  telah menandatangi konvensi yang melarang adanya perbudakan dan perdagangan budak.

Setelah pelarian orang-orang Yahudi dari Mesir, mereka (Yahudi) tetap mempertahankan perbudakan, bahkan perbudakan di antara mereka sendiri. Hal itu diatur oleh hukum Musa sebagai bagian dasar dari ekonomi dan budaya mereka.

Untuk memberi gambaran tentang perbudakan dan perdagangan budak yang telah berlangsung di dunia sampai dengan dihapuskanya, maka kiranya ada baiknya jika disini  dikemukankan  pula secara singkat  sejarah berlangsungnya perbudakan seperti berikut ini
  • Perbudakan pada jaman Kuno,
  • Perbudakan pada jaman Yunani,
  • Perbudakan pada jaman Romawi,
  • Perbudakan di Eropa pada abad pertengahan,
  • Pbudakan di Kerajaan  kapas, dan
  • Perbudakan di Dunia Islam.
Mengenai butir-butir tersebut diatas dalam garis besarnya adalah . . . . . (Bersambung)

*
Americans are so enamored of equality that they would rather be equal in slavery than unequal in freedom. The subjection of individuals will increase amongst democratic nations, not only in the same proportion as their equality, but in the same proportion as their ignorance  (ALEXIS DE TOCQUEVILLE),
*