Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Pemogokan

Ngunandiko. 50

 

Pemogokan

Setelah Revolusi Industri (1750-1850) terjadilah perubahan drastis kondisi ekonomi-politik-sosial, utamanya di negara-negara kapitalis di Eropa dan Amerika Serikat. Pabrik-pabrik yang bermunculan telah menerapkan disiplin kerja yang ketat, seperti dalam hal jam kerja, upah kerja, lingkungan kerja, dan lain-lain. Kondisi seperti itu melahirkan perlawanan dari kelas pekerja yang juga terus bertambah.

Mogok adalah suatu alat perjuangan yang sah ; hak mogok adalah salah satu hak asli manusia. Menurut para ahli ilmu sosial & politik hak asli manusia antara lain adalah hak menolak menjual energi sendiri atau dikenal sebagai hak mogok ; hak menolak secara bersama untuk membeli atau menjual barang-barang atau dikenal sebagai hak boikot ; hak untuk mengumumkan ambisi-nya atau dikenal sebagai hak unjuk-rasa atau demonstrasi ;  dan juga hak untuk berdoa.
Boikot,  demonstrasi, dan doa   telah pernah dibahas, dalam kesempatan ini akan dibahas dan direnungkan hak mogok atau pemogokan. Pemogokan atau mogok kerja adalah peristiwa di mana sejumlah besar buruh perusahaan  berhenti berkerja  sebagai bentuk protes  atau menuntut sesuatu. Jika tidak tercapai kesepakatan antara buruh dengan majikan mereka, maka mogok kerja dapat terus bertahan sampai tuntutan para buruh terpenuhi atau setidaknya tercapai sebuah kesepakatan (lihat pula: Wikipedia).
Sebagai akibat perkembangan industri - setelah Revolusi Industri (1750-1850) - telah terjadi perubahan drastis kondisi ekonomi-politik-sosial, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa dan Amerika Serikat. Pabrik-pabrik yang bermunculan telah menerapkan disiplin kerja yang ketat, jam kerja yang maximal, upah kerja yang minimal, dan lingkungan kerja yang buruk dan lain-lain. Kondisi seperti itu melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja (buruh) yang terus bertambah dengan berbagai rentetan tuntutan untuk meraih kendali ekonomi-politik dalam proses produksi di industri al dengan melakukan pemogokan.
Pemogokan adalah penggunaan hak mogok. Pemogokan dapat terjadi di satu tempat (pabrik) atau diberbagai tempat dengan bebagai tujuan. Tujuan pemogokan sedikitnya dapat dibagi dalam 3 golongan yaiitu (a) menuntut terpenuhinya perbaikan hak-hak tenaga kerja (mis: upah, jam kerja, kondisi lingkungan kerja dll) (b) menuntut perbaikan pengelolaan tenaga kerja (mis: kebebasan berorganisasi, keikut-sertaan dalam pengambilan keputusan, sistim karir, sistim pengawasan, dll) dan (c) menuntut terjadinya perubahan politik (mis: perubahan hukum yang merugikan buruh, perubahan haluan negara, mendukung / menentang suatu kudeta, perubahan pimpinan negara dll).

Pemogokan pelaut di Hongkong (1922) berlangsung selama 8 minggu. Sesudah melalui perjuangan berdarah yang sengit, akhirnya penguasa imperialis Inggris di Hongkong terpaksa setuju untuk menaikkan upah, mencabut larangan buruh berserikat, melepaskan buruh yang ditangkap, dan membayar uang duka kepada keluarga buruh yang menjadi korban.

Untuk menggambarkan tiga tujuan pemogokan tersebut, maka berikut ini disampaikan beberapa contoh pemogokan diberbagai tempat pada periode 1834 - 2012 yang dikumpulkan dari sejumlah sumber (mis: BBC, Literatur, Surat-Kabar, Wikipedia dll) sbb:
  • Pemogokan tukang roti di New York pada tahun 1834, dimana tukang roti yang  sudah bertahun-tahun   harus bekerja dalam waktu yang panjang rata-rata 18-20 jam per hari, menuntut pengurangan jam kerja menjadi 10 jam per hari.
  • Pemogokan umum di St. Petersburg (1896); kembali adalah pemogokan murni yang terkait dengan soal ekonomi, yakni persoalan upah (tingkat upah kerja yang sangat rendah), kondisi kerja para pekerja (pemintal dan penenun di St. Petersburg) yang sangat buruk, jam kerja yang panjang sekitar 15 jam per hari,   dan serangkaian penipuan yang dilakukan oleh majikan. Kondisi buruk seperti itu masih dapat ditahan dengan sabar oleh para buruh dalam jangka waktu yang lama, sampai sebuah peristiwa yang tampak sepele menghilangkan kesabaran mereka. Peristiwa tersebut adalah perayaan penobatan kaisar Nicholas II pada bulan Mei 1896, yang telah tertunda selama dua tahun karena kekhawatiran akan adanya revolusi.  Untuk menyambut perayaan itu para majikan St Petersburg memberikan hari libur wajib selama tiga hari tanpa biaya. Hal itu menyebabkan para karyawan menjadi marah ,  dan setelah mereka mengadakan pertemuan - dihadiri sekitar 300 karyawan - di Ekaterinhorf Garden, maka diputuskan untuk mengadakan pemogokan dengan tuntutan (a) pembayaran upah selama libur penobatan, (b) jam kerja dikurangi menjadi sepuluh jam sehari, dan (c) kenaikan upah kerja . Pemogokan  terjadi sejak 24 Mei 1896 dan dilakukan oleh lk 40.000 buruh, selama seminggu pabrik-pabrik penenunan dan pemintalan St Petersburg tidak beroperasi. Kemudian ternyata lk seribu pekerja ditahan oleh penguasa, dan pemogokan umum tersebut ditindas.
  • Pemogokan umum massal meletus pada Desember 1904 di Kaukasus dan Baku telah membuat seluruh wilayah Rusia menjadi tegang. Peristiwa Desember di Baku tersebut diawali oleh pemogokan massal di Batum dan Kaukasus pada bulan Mei 1902 yang merupakan salah satu bagian terakhir dan dahsyat dari serangkaian pemogokan- pemogokan masal besar yang mengguncang seluruh Rusia bagian selatan. Jaringan pemogokan tersebut seperti layaknya gelombang gempa bumi terjadi beberapa waktu sebelum revolusi 1905.
  • Pemogokan pelaut di Hongkong (1922) berlangsung selama 8 minggu. Sesudah melalui perjuangan berdarah yang sengit, akhirnya penguasa imperialis Inggris di Hongkong terpaksa setuju untuk  menaikkan upah, mencabut larangan buruh berserikat, melepaskan buruh yang ditangkap, dan membayar uang duka kepada keluarga buruh yang menjadi korban.
  • Pemogokan umum buruh  Peking-Hangkhou (4 Pebruari 1923) untuk memperjuangkan kebebasan membentuk gabungan serikat buruh. Pada tanggal 7 Pebruari raja perang-raja perang (War-lord) dari Utara Wu Phei-fu dan Siao Yao-nan yang didukung oleh imperialisme Inggris dengan kejam membunuh buruh yang mogok. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai Pembunuhan 7 Pebruari. Pemogokan ini di bawah pimpinan Partai Komunis China.
  • Pemogokan besar-besaran pegawai kereta api berlangsung di Hindia Belanda (Mei 1923)   diikuti oleh 13.000 buruh dari 20.000 buruh yang ada. Pemogokan dimulai dari Semarang, kemudian menjalar ke Madiun dan Surabaya.    Kurang dari satu bulan pemogokan bubar, karena kekuatan aksi kaum pemogok dengan majikan tidak seimbang. Akibatnya ratusan buruh yang terlibat pemogokan dipecat. 
  • Pemogokan Delanggu (23 Juni 1948), diluncurkan secara teratur dan besar-besaran oleh Sarikat Buruh Perkebunan RI (Sarbupri). Pemogokan buruh yang pertama kali dalam alam Republik Indonesia Merdeka menyangkut pekerja di pabrik karung dan tujuh perkebunan di Delanggu dan sekitar daerah Klaten, Jawa Tengah. Pemogokan yang sangat merugikan itu akhirnya diselesaikan dengan suatu persetujuan (16 Juli 1948). Tikaman dari belakang   terhadap RI tersebut merupakan suatu mata rantai dari peristiwa-peristiwa berikutnya (al Pemberontakan PKI Muso 18 September 1948).
  • Pemogokan buruh minyak (9 September 1978) di Iran yang kemudian diikuti oleh buruh angkutan (pesawat, kapal, dan kereta api) menyebabkan seluruh ekspor minyak Iran terhenti. Pemogokan para buruh Iran itulah yang sesungguhnya menentukan runtuhnya dinasti Shah.
  • Sebagai dampak krisis ekonomi yang mulai dirasakan sangat keras di Eropa, maka (19/01/2009) ratusan ribu kaum pekerja dari berbagai sektor di Perancis bergabung melakukan pemogokan dan unjuk rasa menuntut kenaikan upah dan jaminan kerja. Sesungguhnya telah diambil langkah-langkah penyelamatan terhadap bank-bank untuk meredam krisis tersebut oleh negara, namun  menurut Charles Foulard (dari perusahaan penggilingan minyak raksasa, Total)  buruhlah yang sebenarnya paling menderita. Pemogokan tersebut yang berlangsung di hampir seluruh negeri itu dan disebut sebagai "Kamis Hitam" (Black Friday), dimana diantaranya menuntut kenaikan upah yang layak dan pembatalan rencana pemerintah untuk melakukan privatisasi sektor kesehatan, serta menolak rencana pemecatan terhadap 13.500 buruh di sektor pendidikan dan perubahan status perusahaan pos milik negara.
  • Pada tahun 2011 di Indonesia sekitar 8.000 dari 23.000 karyawan Freeport (Timika Papua) melakukan pemogokan selama lebih dari satu bulan untuk menuntut kenaikan gaji dan perbaikan kondisi kerja.

Demo korps guru di Chicago
  • Pada tahun 2012 korps guru di Chicago menggelar aksi mogok untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir, hal ini karena perselisihan kontrak. Sedikitnya 29.000 guru akan mogok mengajar dan memicu sengketa dengan Walikota Rahm Emanuel. Aksi mogok ini berlangsung setelah semua pembicaraan selama berbulan-bulan terkait kontrak guru berakhir buntu pada hari Minggu (09/9/2012). Sebanyak 29 ribu orang guru dan staf pendukung di sekolah-sekolah kota Chicago, negara bagian Illinois, Amerika meninggalkan pekerjaan mereka untuk berdemostrsi di luar sekolah mereka.
  • Gerakan buruh Eropa kembali (November 2012)  menorehkan sejarah baru. Jutaan buruh berpartisipasi dalam aksi mogok serentak di sejumlah negara Eropa seperti: Spanyol; Portugal; Yunani; Belgia; Italia; Perancis; Malta; Jerman; Inggris; dan lain-lain. Seruan pemogokan ini diluncurkan oleh Konfederasi Serikat Buruh Eropa (ETUC). Diperkirakan 40-an serikat buruh dari 23 negara berpartisipasi dalam aksi pemogokan berskala luas ini. Aksi pemogokan ini mengambil slogan "For Jobs and Solidarity in Europe, No To austerity". Misalnya di Spanyol, pekerja sangat menderita akibat kebijakan yang diintrodusir oleh Troika (IMF, Uni Eropa, dan Bank Sentral Eropa): pemotongan gaji, PHK massal, penundaan usia pensiun, pemotongan uang pensiun, kenaikan biaya pendidikan, pemotongan anggaran sosial, dan lain - lain.

Seperti diketahui perubahan politik di suatu negara yang dilakukan oleh massa atau rakyat pada umumnya dilakukan melalui aksi ekonomi atau politik, dimana perwujudan aksi tersebut antara lain adalah penggunaan   hak mogok, sebagai contoh adalah p emogokan buruh minyak (1978) di Iran, yg kemudian diikuti oleh buruh angkutan (pesawat, kapal, dan kereta api) menyebabkan seluruh ekspor minyak Iran terhenti, dan diikuti dengan runtuhnya dinasti Shah Reza Pahlavi pada tahun 1979. (lihat: contoh-contoh diatas).
Contoh terkemuka lainnya adalah pemogokan buruh galangan kapal GdaƄsk (1980) yang dipimpin oleh Lech Walesa. Pemogokan ini bernilai penting dalam perubahan politik di Polandia, dan merupakan suatu upaya mobilisasi yang penting yang memiliki kontribusi terhadap runtuhnya pemerintahan komunis di Eropa Timur (lihat: Wikipedia).

Jika dilihat dari perspektip sejarah, maka mogok merupakan salah satu bentuk perjuangan kelas antara kelas pekerja dan kelas kapitalis yang berlangsung terus menerus. Peristiwa demi peristiwa mogok berlangsung pasang surut sejalan dengan pasang surut ekonomi masyarakat yang berdasar kapitalisme.

Lukisan "Mayday Parade"
Disamping perubahan politik seperti diatas, pemogokan-pemogokon buruh di berbagai tempat juga menyebabkan Konggres 1886 Federation of Organized Trades and Labor Unions memandang perlu menetapkan "Satu Mei" sebagai suatu momentum (milestone) untuk memperkuat adanya tuntutan jam kerja delapan jam sehari, serta memberikan semangat baru bagi perjuangan kelas pekerja.  Dipilih saat "Satu Mei" karena terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada tahun 1872  yang menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat, dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886. Hari itu kemudian dikenal dan dirayakan di seluruh dunia sebagai "May-Day".

Tampak dari contoh-contoh diatas bahwa pemogokan dapat dilakukan oleh sejumlah buruh atau organisasi buruh, di sejumlah tempat produksi (pabrik, galangan kapal, pemintalan dll) dan negara; ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Pemogokan pada hakekatnya adalah pertarungan antara kekuatan buruh disatu fihak dan kekuatan majikan dilain fihak. Pertarungan tersebut berakhir j i ka dapat tercapai persetujuan antara buruh dengan majikan, dan pertarungan akan timbul kembali ketika persetujuan tersebut karena berjalannya waktu menjadi batal.
Sedangkan jika dilihat dari perspektip sejarah, maka pemogokan merupakan salah satu bentuk pertarungan (perjuangan kelas) antara kelas pekerja (buruh) dan kelas kapitalis (pengusaha) yang berlangsung terus menerus. Peristiwa demi peristiwa pemogokan berlangsung pasang surut sejalan dengan pasang surutnya ekonomi masyarakat yang berdasar kapitalisme (struktur sosial yang berciri kapitalis).
Oleh karena hal-hal tersebut diatas kemungkinan memenangkan pemogokan akan menjadi lebih besar, jika bertahan pada saat dimana kondisi ekonomi m asyarakat berdasar kapitalisme sedang surut. Sudah barang tentu pemogokan akan dapat dimenangkan oleh kaum buruh, jika kaum buruh selalu bersatu serta menjalankan logika perjuangan-nya secara tepat dan benar yaitu:
  • tuntutan yang diajukan-nya adalah  rasional,  jelas, dan dirasakan oleh sebagian besar buruh;
  • dipersiapkan dengan matang (mis: saat, waktu, dan slogan dipilih secara tepat);
  • mempertimbangkan kekuatan sendiri (kekuatan buruh);
  • mempertimbangkan kekuatan lawan (kekuatan majikan);
  • mempertimbangkan kemungkinan intervensi fihak ketiga (mis: kekuatan negara);
  • pimimpinan yang cakap dan disegani.
Namun dilain fihak pada saat ini pemogokan juga memperoleh tantangan yang lebih besar, karena negara-negara kapitalis - sudah barang tentu tidak menghendaki adanya pemogokan - memiliki forum kerjasama mengatasi krisis ekonomi secara bersama misalnya melalui   kelompok  G-7.
Dari bahasan dan renungan tersebut diatas terlihat, bahwa pada masa sekarang (abad ke-21) dan lebih-lebih pada masa-masa yang akan datang, pemogokan buruh tidak hanya untuk memperjuangkan hak-hak buruh seperti upah-kerja, jam-kerja, lingkungan -kerja, kebebasan berserikat dan lain-lain, namun pemogokan buruh juga untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan yang lebih luas. Di masa mendatang perjuangan buruh langsung atau tidak langsung akan memperoleh dukungan dari gerakan buruh dan gerakan kaum sosialis baik lokal maupun internasional, namun sebaliknya juga harus berhadapan dengan kekuatan para majikan dalam sistim masyarakat berdasarkan kapitalisme yang telah maju (neo-kapitalisme)
Demikianlah semoga uraian ini bermanfaat!

*
Labor is prior to, and independent of, capital. Capital is only the fruit of labor, and could never have existed if labor had not first existed. Labor is the superior of capital, and deserves much the higher consideration (Abraham Lincoln)

*

Minggu, 19 Februari 2012

Boikot

Ngunandiko.22



Boikot


Boikot adalah tindakan untuk tidak menggunakan, membeli, atau berurusan dengan seseorang atau suatu organisasi, sendiri-sendiri atau bersama-sama, sebagai wujud protes atau sebagai suatu bentuk pemaksaan (Wikipedia).

Boikot toko pakaian Yahudi di Jerman  (1933)

Perubahan politik di suatu negara yang dilakukan oleh massa atau rakyat pada umumnya dilakukan melalui aksi ekonomi atau politik, dimana   perwujudan  aksi  tersebut antara lain adalah penggunaan hak asli manusia seperti : demonstrasi, mogok, boikot, dan juga berdoa.

Aksi politik dalam bentuk demonstrasi atau unjuk rasa dan dalam bentuk doa telah pernah dibicarakan (lihat: Demonstrasi; Ngunandiko.2 dan: Doa; Ngunandiko.6), berikut ini akan dibicarakan aksi politik dan ekonomi dalam bentuk boikot. Boikot dilakukan oleh sejumlah orang atau organisasi di sejumlah tempat dan di sejumlah negara (baik di negara sendiri maupun di negara asing) , ada yang berhasil dan ada yang gagal.

Kata boikot (boycott) pertama kali diperkenalkan di Inggris, adapun sejarah digunakannya kata kerja boycott tersebut  lk sebagai berikut : 

  • Charles Boycott Cunningham adalah seorang purnawirawan kapten Angkatan Darat  (Army) Inggris    (12 Maret 1832 s/d 19 Juni 1897). Boycott bekerja pada  Lord Erne (John Crichton, 3rd Earl Erne) seorang tuan tanah di Lough Mask daerah County Mayo, Irlandia ;  ia dikucilkan oleh oleh masyarakat Irlandia  sebagai bagian dari kampanye hak-hak penyewa tanah (pada waktu itu kedudukan penyewa tanah Irlandia sangat lemah) . Kampanye hak-hak penyewa tanah tersebut (1880) dikenal sebagai kampanye menuntut adanya : “sewa yang adil, kepastian waktu sewa, dan penjualan hasil secara bebas“ atau :"Three Fs" (fair rent, fixity of tenure, and free sale).

  • Untuk mendukung kampanye "Three Fs" tersebut  Liga Tanah Irlandia – dipimpin oleh Charles Stewart Parnell dan Michael Davitt –  menarik tenaga kerja lokal yang diperlukan untuk menyimpan hasil panenan  perkebunan Lord Erne, dan kemudian  melakukan pula  isolasi terhadap kegiatan Boycott ;  toko-toko, binatu, dan petugas pos di Ballinrobe (wilayah di dekat kebun Earl Erne) menolak untuk melayani-nya.

  • Kampanye melawan Boycott tersebut menjadi populer di  Inggris, setelah ia menulis surat kepada surat kabar “The Times” mengadukan situasi yang dihadapainya di Irlandia.  Dari sudut pandang kerajaan Inggris pada waktu itu, hal yang dialami Boycott tersebut  adalah suatu pengorbanan seseorang yang setia terhadap kerajaan Inggris melawan semangat nasionalisme Irlandia. Jika hal semacam itu tidak dicegah, maka akan  membahayakan kewibawaan kerajaaan Inggris.

  • Untuk menyelamatkan hasil panen  perkebunan Lord Erne tersebut,  maka kerajaan Inggris mengirim lima puluh Orangemen (orang-orang yang setia kepada kerajaan Inggris) dari County Cavan dan County Monaghan  ke kebun Lord Erne, disamping itu satu resimen tentara dan lebih dari 1.000 pria dari Royal Irlandia Constabulary dikerahkan untuk melindungi para pemanen. Seluruh episode tersebut diperkirakan menelan biaya pemerintah Inggris lebih dari £ 10.000 ;  untuk melindungi hasil panen sekitar     £ 500.

Sejak peristiwa tersebut nama Boycott menjadi kata kerja bahasa Inggris boycott yaitu kegiatan  yang menggambarkan aksi kaum nasionalis Irlandia mengucilkan Charles Boycott Cunningham, dan dalam bahasa Indonesia adalah boikot.

Dengan demikian boikot dapat di-definisi-kan sebagai suatu tindakan untuk tidak menggunakan, membeli, atau berurusan dengan seseorang atau suatu organisasi, sendiri-sendiri atau bersama-sama, sebagai wujud protes atau sebagai suatu bentuk pemaksaan. Boikot pada umumnya dilakukan tanpa kekerasan (non-violence). Boikot disebut sukses jika pengorbanan selama melakukan boikot tersebut menghasikan sesuatu seperti apa yang diharapkan, dan nilai-nya sepadan dengan nilai pengorbanannya.

Boikot akan berhasil jika :

•     tujuannya jelas dan terukur ;
•    di dukung oleh kekuatan yang nyata (bukan khayalan) ;
•    dipersiapkan dengan baik ;
•    dilaksanakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi ; dan
•    dipimpin oleh seorang yang cakap dan disegani.

Tujuan boikot jelas dan terukur berati : “Apa” ; “Bagaimana” ; dan “Untuk apa” boikot dilakukan harus jelas dan terukur. Sebagai contoh : “Boikot terhadap produk Amerika”, maka harus diketahui :

•    Apa yang akan diboikot ; misalnya : produk minuman Amerika, katakanlah minuman Coca-cola,
•  Bagaimana boikot dilakukan  ;  misalnya : tidak membeli/minum minuman Coca-cola, tetapi membeli/minum produk minuman negeri sendiri.
•    Untuk apa boikot dilakukan ; misalnya : agar pemerintah Amerika Serikat tidak lagi pro Israel dalam konflik antara Israel dengan Palestina, sehingga rakyat Palestina dapat menggunakan hak-haknya dengan bebas.

Hal tersebut harus diketahui oleh para partisipan aksi boikot, agar boikot dapat berjalan dengan efektip dan efisien.

Boikot bukan suatu tindakan yang melanggar hukum (boycotts are unquestionably legal under common law) dapat mengenai berbagai masalah dan dapat bertebaran diberbagai tempat. Boikot mengenai berbagai masalah dan  bertebaran di berbagai tempat oleh seorang pemimpin yang cerdas dapat diubah-nya menjadi satu kekuatan protes dan pemaksaan yang dahsyat. 

Seperti telah diterangkan dimuka bahwa perubahan politik di suatu negara yang dilakukan oleh massa atau rakyat, pada umumnya dilakukan melalui aksi  demonstrasi, mogok, boikot, dan berdoa. Keberhasilan aksi-aksi tersebut  selain  sejalan-nya satu aksi dengan aksi lain-nya, juga harus dapat dijaga semangat dari partisipan aksi-aksi tersebut untuk jangka waktu yang cukup.

Sesungguhnya ada berbagai macam boikot tergantung dari sudut pandang yang digunakan, dalam kesempatan ini hanya akan disajikan secara singkat beberapa aksi boikot dengan maksud memberi gambaran tentang aksi boikot yang pernah terjadi dan dikelompokkan sbb : 

•    boikot atau seruan boikot yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini ;
•    boikot thdp produk AS pd awal abad ke-21 karena konflik Israel vs Palestina ; dan
•    boikot terhadap produk Inggris pada awal abad ke-20 yang terjadi di India.


1.    Boikot di Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu sejumlah tokoh menyerukan dilakukannya aksi boikot berkaitan dengan berbagai permasalahan di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa contoh dari aksi-aksi tersebut.

•  Pada akhir tahun 2010 Faisal Basri,  melalui tulisan ber-judul “Saatnya Pembangkangan Sipil” ,  melontarkan seruan agar dilakukan "Boikot Pajak". Hal itu dimaksudkan supaya rencana pembangunan gedung DPR baru dan mewah dibatalkan. Seruan “Boikot Pajak” tersebut mendapat sambutan positip dari masyarakat, lebih dari dari 160 orang menyatakan akan ikut dan akan men-sosialisasi-kannya. Beberapa diantaranya mengusulkan agar Faisal Basri yang mengkoordinir sikap yang disebut-nya sebagai  “Pembangkangan Sipil” tersebut. Aksi ini kemudian tidak lagi terdengar kelanjutannya, walaupun kabarnya pembangunan gedung DPR tersebut ditunda..

•   Pada akhir tahun 2011 sedikitnya 200 Kades (Kepala Desa) di Kabupaten Bandung yang tergabung dalam Perwakilan Kepala Desa Nusantara (Parade Nusantara) mengancaman akan melakukan boikot jika “RUU Desa” tidak segera disyahkan. Aksi boikot tersebut akan dilakukan dengan cara :

o    menolak melakukan pungutan Pajak Bumi Bangunan (PBB),
o    menolak menjadi panitia pemilihan Presiden (Pilpres), dan
o    menolak untuk membantu tugas-tugas Pemerintah Pusat lainnya yang diselenggarakan di daerah.

Ancaman aksi boikot tersebut dinyatakan oleh Ketua Umum Parade Nusantara Sudir Santoso atas nama lk 200 Kades, setelah ia mendengarkan sambutan Wakil Ketua DPR-RI Priyo Budi Santoso (Fraksi PG) di acara ”Evaluasi Perjuangan Rancangan UU Desa” di  Bandung. Para Kades  mengatakan sudah bosan dengan janji Pemerintah Pusat yang dinilai lamban dan mengulur-ngulur waktu, mereka menuntut Presiden SBY segera menandatangani RUU Desa tersebut. Isi draf RUU Desa yang diperjuangkan oleh kepala desa tersebut a.l adanya bantuan dari APBN ke desa sebesar 10% ( tahun sebelumnya sekitar 1,7% dari APBN). Pada  kenyataanya hingga sekarang (Januari 2012) Presiden belum juga menandatangani RUU Desa tersebut.

•    Pada akhir tahun 2011 Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) melalui Baluki Ahmad (Ketua Umum HIMPUH)  mengancam akan memboikot maskapai penerbangan Garuda Indonesia, karena dinilai menaikkan biaya penerbangan terlalu tinggi. Pada 2009 biaya penerbangan Jakarta-Jeddah sebesar USD 960 ; pada 2010 sebesar USD 1.050 ; dan sekarang 2011  melonjak menjadi US$1.279.
Aksi boikot tersebut akan dilakukan dengan cara mengalihkan pilihan dari Garuda Indonesia ke maskapai penerbangan yang lebih murah biaya penerbangan-nya.
Perlu diketahui jumlah anggota HIMPUH sebanyak 228 perusahaan travel penyelenggara haji dan umrah. Setiap tahun sedikitnya ada 120.000 jemaah umrah yang diberangkatkan oleh anggota HIMPUH.
Ancaman boikot yang dilakukan oleh HIMPUH ini mendapat tanggapan positip dari Garuda Indonesia, walaupun tuntutannya belum dapat terpenuhi 100%.

2.    Boikot terhadap produk Amerika Serikat.

Boikot ini merupakan salah satu cara  bangsa Indonesia dalam ikut membantu menyelesaikan pertikaian antara Israel dan Palestina, dengan cara menekan Amerika Serikat melalui boikot terhadap semua produk Amerika (KH. Ma'ruf Amin).

Boikot terhadap produk Amerika Serikat (AS) yang dimaksud dalam tulisan ini adalah boikot yang berlangsung pada awal abad ke-21. Boikot (setidak-tidaknya seruan boikot) terhadap produk AS ini telah dilakukan oleh sejumlah orang atau organisasi diberbagai negara ;  dimaksudkan agar sikap pemerintah AS yang selalu menyokong Israel (kaum Zionis) –  dalam pertikaian antara Israel dengan rakyat Palestina –  dapat berubah setidak-nya AS bersikap netral. 

    Indonesia : Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk melakukan aksi boikot terhadap seluruh produk-porduk Amerika Serikat. Seruan ini disampaikan oleh salah satu Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma'ruf Amin (30/12/11). Tujuan seruan ini, agar Presiden Amerika Serikat yang baru Barack Obama, tidak lagi mengikuti jejak pendahulunya George W Bush yang tidak bersikap netral dalam  konflik Palestina dan Israel.
Menurut Ma’ruf Amin boikot ini merupakan salah satu cara  bangsa Indonesia dalam ikut membantu menyelesaikan pertikaian antara Israel dan Palestina, dengan cara menekan Amerika Serikat melalui boikot terhadap semua produk Amerika.
Ma'ruf Amin  berharap boikot ini akan diikuti oleh umat Islam Indonesia. Seruan boikot ini juga didasari oleh sikap keras kepala Israel terhadap rakyat Palestina, hanya dengan Amerika Serikat Israel takut  karena  merasa selalu dilindungi oleh  Amerika Serikat. 

    Itali : Pada medio 2011 aksi massa di Italia juga menyerukan boikot terhadap produk AS (AS dianggap pro Zionis).  Seruan boikot ini juga di dukung oleh Giancarlo Desiderati anggota lembaga perdagangan di Italia.

    Malaysia : Organisasi-organisasi Muslim di Malaysia pada medio 2011 menyerukan boikot terhadap produk-produk AS seperti : minuman Coca Cola, sajian burger Mac Donald, sajian kopi Starbucks, dan lain-lain. Seruan boikot ini juga didukung oleh mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohammad.

    Mesir : Pada medio 2011 (tepatnya 24/06/2011) para demonstran Mesir di alun-alun Tahrir menyerukan kepada pemerintah Mesir memboikot produk-produk Amerika, karena pemerintah Amerika Serikat dianggapnya selalu mendukung kaum Zionis. 

Boikot terhadap produk AS seperti itu terlihat  belum dapat mengubah sikap pemerintah AS yang pro Israel (kaum Zionis) dalam pertikaian antara Israel dengan Palestina.

3.    Boikot terhadap produk Inggris.

Inggris terpaksa membebaskan Gandhi, setelah Gandhi bersedia menghentikan gerakan boikotnya dengan kompensasi bahwa bangsa India diberi hak untuk menentukan sendiri masa depan-nya.

Tilak

Boikot terhadap produk Inggris yang dimaksud dalam tulisan ini adalah boikot yang berlangsung pada awal abad ke-20. Boikot terhadap produk Inggris pada masa itu adalah dalam rangka menuntut kepada pemerintah kolonial Inggris agar memberi rakyat India hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Boikot terhadap produk-produk Inggris (tahun 1900-1905) dilakukan oleh India dibawah  pimpinan Tilak. Aksi boikot tersebut a.l karena adanya kebijakan pemerintah kolonial Inggris yang mengharuskan kapas hasil kebun milik tuan-tuan tanah India di ekspor ke Inggris dengan harga yang sangat murah. Kapas tersebut kemudian diolah oleh pabrik milik para kapitalis Inggris, hasilnya berupa tekstil & produk tekstil dijual dengan harga yang berlipat ganda kepada para pembeli bangsa India.

Kebijakan tersebut sangat merugikan rakyat India terutama pemilik kebun kapas, pemilik pabrik tenun, petani dan buruh. Oleh karena itu Tilak lalu menggalang aksi boikot. Tujuan aksi boikot tersebut adalah tidak membeli dan tidak menggunakan produk-produk ex Inggris serta menggantikannya dengan produk ex India, supaya industri dan perdagangan nasional India dapat hidup dan berkembang.
Tilak (nama lengkapnya Bal-Gangadhar-Tilak (Lokmanya Tilak), beliau meninggal tahun 1920) dalam melaksanakan aksi boikot tersebut menggunakan kekayaan yang dimilikinya. Aksi boikot terhadap produk  ex Inggris cq tekstil tersebut ternyata didukung oleh : kaum cendekiawan ; pemilik tanah ; saudagar besar & kecil ; buruh ; dan tani India. Dukungan tersebut berupa dukungan dana, alat, dan juga dukungan semangat Meskipun penuh dengan rintangan politik, ekonomi, keuangan dan kendala peralatan yang luar biasa akhirnya aksi boikot Tilak dkk tersebut dapat meraih kemenangan.
Pemerintah kolonial Inggris terpaksa merubah kebijakan-nya terhadap kebun-kebun kapas di India dan produk-produk ikutannya (Inggris si penjajah memang cerdik, cukup ambil pajaknya), sehingga selain pabrik-pabrik tenun, pabrik-pabrik di India lainnya seperti ; pabrik besi-baja ; mesin-mesin ; batubara dll memetik hasil dari aksi Tilak tersebut. Pada Perang Dunia yang lalu produk industri nasional India seperti gerbong dan lokomotip “Tata”  telah dipesan oleh Inggris ;  bahkan kemudian produk India (tidak hanya tekstil) mulai masuk ke pasar internasional. 

Kemenangan aksi boikot Tilak tersebut membangkitkan aksi serupa yang dipelopori Mahatma Gandhi yang terkenal dengan nama SATYAGRAHA. Satyagraha semula adalah sebutan bagi gerakan perlawanan rakyat sipil yang melakukan protes terhadap monopoli garam yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Inggris di India.

Dengan alasan garam merupakan kebutuhan vital bangsa India, pemeritah kolonial Inggris menetapkan aturan monopoli garam yang  berisikan larangan untuk mengumpulkan atau menjual garam, dan dengan paksaan rakyat India harus membeli  garam dari Inggris dengan harga yang mahal ( pajak yang tinggi).
Pada Maret 1930, Mahatma Gandhi (dan 78 pengikutnya) mempelopori pembuatan garam sendiri dari air laut di kota Dandi yang terletak di Pantai Laut Arab sebagai aksi protes terhadap monopoli garam tersebut. Gerakan pembuatan garam sendiri ini dengan segera meluas diikuti oleh wilayah-wilayah  lain di India, termasuk Mumbai (d/h Bombai) dan Karachi (sekarang termasuk Pakistan).
Pemerintah kolonial Inggris berusaha menghentikan gerakan tersebut a.l dengan kekuatan tentara menangkap Gandhi dan sejumlah pengikutnya, namun gerakan Satyagraha terus berlangsung. Inggris akhirnya terpaksa membebaskan Gandhi yang bersedia menghentikan gerakan-nya itu, dengan kompensasi  bangsa India diberi hak untuk menentukan sendiri masa depan-nya.

Sebagai penutup uraian diatas, kiranya perlu dikemukakan bahwa aksi boikot  umumnya dilakukan oleh orang-orang atau organisasi terhadap kekuatan yang lebih besar. Namun aksi boikot akan dapat berhasil  seperti yang diharapkan, jika syarat-syarat seperti yang telah diterangkan dimuka harus dipenuhi. Selain itu seorang pemimpin yang cerdas akan dapat menyatukan aksi-aksi boikot yang bertebaran menjadi kekuatan penekan dan pemaksa yang dahsyat. Di masa mendatang dimana telah terjadi “globalisasi”, maka aksi boikot memerlukan pimpinan yang selain cerdas dan berani, juga harus berpengetahuan luas.

Demikianlah semoga uraian singkat ini bermanfaat !

* 
 . . . . . . berhasil mengerahkan kaum buruh yang berjuta juta agar meninggalkan pekerjaannya, dan yang bukan buruh agar tak mau bekerja sama, serta seluruh rakyat berdemonstrasi untuk menuntut hak ekonomi dan politik tanpa melempar sebutir kerikilpun kepada pegawai pemerintah, niscaya akibat politik moral dari aksi itu sangat besar artinya, ia akan mendatangkan keuntungan dalam perjuangan politik dan ekonomi, lebih besar dari seratus Pemberontakan (Tan Malaka).

*