Minggu, 25 Juni 2017

Fidel Castro

Ngunandiko 129





Mutiara
(Fidel Castro)


Ngunandiko dengan judul  "Mutiara (Fidel Castro)"  yang berisikan beberapa "quotation"      dari Fidel Casto, salah satu tokoh  terkemuka  Amerika Latin. Fidel Castro lahir pada tanggal 13 Agustus 1926, Selelah menamatkan pendidikan ilmu hukum, ia focus pada masalah-masalah politik dan menunjukkan sikapnya yang anti imperialisme dan kediktatoran.

"Quotation" ini diambil secara acak dari berbagai sumber  untuk menggambarkan pandangan pandangan-nya mengenai berbagai masalah politik dan sosial  agar  kita dapat mengingat  dan merenungkannya. Quotation-quotation tersebut antara lain adalah sbb:





·      I can assure you that my first and foremost interest is my country (Fidel Castro)

·       The first thing dictators do is finish free press, to establish censorship . There is no doubt that a free press is the first enemy of dictatorship (Fidel Castro)

·       . . . . . quality of life lies in knowledge, in culture. Value are what constitute true quality of life, the supreme quality of life, even above food, shelter and clothing (Fidel Castro).

·     You may be able to convince me that I am wrong, but you cannot tell me that I am wrong without convincing me (Fidel Castro).




·       Kapitalisme tidak memiliki kemampuan dan kewajiban moral atau  etika  untuk memecahkan masalah-masalah kemiskinan (Fidel Castro).

Demikianlah beberapa kata mutiara (quotaion) dari salah satu tokoh terkemuka Amerika Selatan, serta seorang yang telah merintis lahirnya negara Cuba, Amerika Selatan (Amerika Latin) di akhir abad ke-20.  Semoga bermanfaat.

*
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world (Nelson Mandela)

*

Kamis, 27 April 2017

SILOGISME

Ngunandiko.123



Silogisme


Belum lama ini, seperti biasa saya menerima SMS dari  cucu saya, dia menanyakan  tentang “Silogisme”. Pembicaraan saya dengan cucu saya dalam SMS tersebut adalah sbb :

·                Cucu             :   Ki apa sih arti “Silogisme” itu ? Kok senior saya menganjurkan untuk mempelajarinya kalau ingin jadi “Politisi”

·                     Aki                  :  Wah  sesungguhnya tidak hanya “Politisi” yang perlu mempelajari “Silogisme”, profesi lain juga perlu

·                Cucu             :     Begitu tho Ki  ? 

·                     Aki                  Ya !:  Karena seniormu tahu bahwa  dalam “politik” sering  digunakan “silogisme” dalam menarik suatu kesimpulan dari suatu pernyataan secara deduktif. Pada dasarnya “silogisme” disusun atas dua  pernyataan  dan sebuah konklusi (kesimpulan). 

·                Cucu             :   Bagaimana penjelasannya Ki ?

·                Aki                :  Saja beri contoh  sbb ya?

(Pernyataan 1) : Semua makhluk hidup memerlukan makanan.
(Pernyataan 2) : Tumbuhan adalah makhluk hidup
(Kesimpulan )  : Tumbuhan memerlukan makanan
Tapi dalam “Politik” tidak sesederhana itu. Pada  keadaan yang sesungguhnya (mis : di Indonesia) salah satunya adalah  sbb :

(Pernyataan 1) : Meriam menyatakan  Anas, Novanto  dll telah menerima uang dari proyek E-KTP
        (Pernyataan 2) : Anas, Novanto dll menyangkal menerima uang dari                proyek E-KTP
(Pernyataan 3)  : Meriam  menarik kembali pernyataannya.
(Pernyataan 4)   : KPK  ajukan Meriam ke Pengadilan (jika  dia  bohong/salah akan dihukum).

Dari keempat pernyataan itu masih sulit untuk disimpulkan begitu saja, maka kita coba menyimpulkan-nya secara bertahap.

Tahap ke-1 :
(Pernyataan 1) : Meriam menyatakan  Anas, Novanto  dll  menerima uang dari proyek E-KTP
(Pernyataan 3)   : Meriam  menarik kembali pernyataannya.
(Pernyataan 2) : Anas, Novanto dll menyangkal menerima uang dari proyek E-KTP
(Kesimpulan 1)  : Anas, Novanto dll tidak menerima uang dari proyek E-KTP

Tetapi apakah benar Anas, Novanto dll tidak menerima uang dari proyek E-KTP, masih perlu kita uji. 

Tahap ke-2
 (Pernyataan 3)     : Meriam  menarik kembali pernyataannya.
 (Pernyataan 4)      : KPK ajukan Meriam ke Pengadilan.
 (Pernyataan 5)   : Pengadilan memutuskan  Meriam  bersalah (Meriam  menarik kembali pernyataannya adalah tidak benar).
(Kesimpulan 2)  : Anas, Novanto dll menerima uang dari proyek E-KTP

·                Cucu             :   Jadi  Anas, Novanto dll menerima uang proyek E-KTP Ki ?

·                Aki                :  Ya  Anas, Novanto dll menerima uang dari proyek E-KTP. Tapi kalau Pengadilan memutuskan Meriam tdak  bersalah, maka Anas, Novanto dll tidak menerima uang dari proyek E-KTP

·                Cucu             :   Jadi silogisme berguna untuk menyimpulkan  ya Kii ?


·                Aki                 :   Ya ! Silogisme berguna untuk menyimpulkan  suatu rentetan kejadian secara ilmiah !


*
Culture cannot be separated from politics. The arts, philosophy and metaphysics, religion and the sciences, constitute culture. Politics are the science or art of organizing our relationships to allow for the development of life in society.
(Eugene Ionesco)


*

Senin, 06 Maret 2017

Definisi.

Ngunandiko.121




DEFINISI
(BATASAN)



I.                   Pendahulauan.


Pada kesempatan ini “Ngunandiko” ingin merenung dan membahas tentang “definisi (batasan)”. Seperti diketahui “definisi (batasan)” adalah sangat penting bagi sains atau ilmu pengetahuan.
Pada akhir-akhir ini (akhir tahun 2016 dan awal 2016) di Indonesia banyak dijumpai  suatu perdebatan yang melebar kemana-mana, sehingga perdebatan itu menjadi tidak efisien dan tidak menghasikan apa-apa.
Perdebatan yang melebar kemana-mana itu, utamanya karena tidak ada “definisi” yang menentukan batas-batas yang tepat dari perkataan atau hukum atau paham yang akan menjadi pokok perdebatan.
Oleh karena itu dalam suatu perdebatan, yang mesti dijawab terlebih dahulu adalah “definisi” dari apa yang akan diperdebatkan. 
Lalu apa arti “definisi” itu” ?. Tanpa ada “definisi” dari pokok perkara perdebatan, maka tak bisa ada perdebatan yang berdasar sains—ilmu pengetahuan, yakni seperti keadaan perdebatan yang terjadi di hampir seluruh dunia Asia sebelum Barat datang.

II.                Pengertian definisi.

Pengertian definisi, seperti yang dijelaskan oleh “kamus Merriam-Webster”  adalah sebagai berikut : Definition : a :  the action or the power of describing, explaining,   or making definite and clear <the definition of a telescope> <her comic genius is beyond definition> b (1) :  clarity of visual presentation :  distinctness of outline or detail <improve the definition of an image> (2) :  clarity especially of musical sound in reproductionc :  sharp demarcation of outlines or limits <a jacket with distinct waist definition>.
Jadi definisi (batasan) adalah kekuatan atau kemampuan menguraikan, menerangkan, serta membuat pasti dan terang sesuatu ; misalnya barang, tindakan (aksi)  atau  pokok perkara yang akan diperdebatkan.
Sebagai contoh cabang sains yang akan menjadi pokok perdebatan  adalah “Geografi (Ilmu bumi)”, maka pengertian “Geografi (ilmu bumi)” itu mesti di-definisi-kan terlebih dahulu. Kalau tidak perdebatan tentang “Geografi (Ilmu bumi)”itu, bisa meluap, mengembara kian kemari, melampaui dan meninggalkan cakupannya.
Contoh lain umpamanya yang akan menjadi pokok perdebatan adalah “Qu d’etat (Kudeta)”, maka “Qu d’etat (Kudeta)” mesti didefinisikan terlebih dahulu. Perkara lain yang berhubungan dan kena mengena dengan “Qu d’etat (Kudeta)”  sudah barang  tentu boleh dan mesti diuraikan, tetapi tak boleh melewati dan menyesatkan  pokoknya,  tujuan memperdebatkan “Qu d’etat (Kudeta)” tersebut.

III.             Menyusun definisi.

Disini akan diuraikan secara singkat bagaimana menyusun definisi, utamanya definisi dari apa yang akan diperdebatkan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam hal itu, yakni :

(1) apa yang akan jadi pokok perdebatan (mesti diberi batas) ; dan
(2) unsur (materi) dan hukum dalam perdebatan itu.

Jadi pertama adalah pengertian dari apa yang jadi pokok perdebatan atau apa yang akan  didiskusikan itu diberi batas ; kemudian unsur atau materi  yakni segala bukti yang menjadi sendi dari perdebatan itu dipastikan ; dan akhirnya hukum yang diperoleh sebagai hasil pemeriksaan yang tenang mesti juga dipastikan. Demikianlah pentingnya definisi itu dalam suatu perdebatan yang bedasar ilmu pengetahuan.
Sekarang marilah kita bahas dan renungkan lebih lanjut  tentang “definisi” itu. “Definisi”  disini mesti  mencakup dan cocok dengan pokok perdebatan (perkara) sacara akurat, jitu, dan tepat. “Definisi”  dikatakan akurat, jitu, dan tepat ; jika unsur (materi) itu terbatas, terpagar, dan semuanya berada dalam batas-batas  (mark of the thing, refer to all things). Kalau pagar pembatasannya tak rapi dan tak semua materi berada dalam pagar itu, maka definisi itu gagal.
Materi yang harus dipagari itu adalah materi yang satu golongan, satu kelas dengannya, tetapi mempunyai perbedaan. Definisi itu ditujukan untuk menentukan golongan kelas dari suatu barang dan perbedaan antar barang yang berada dalam satu kelas.
Definisi itu mesti menampakkan  sifat-sifat utama materi atau barang itu – essential attributes – Sifat-sifat utama itu ialah kelas dan perbedaan- perbedaannya.
Sebagai contoh : jika apa yang akan diperdebatkan itu adalah  “perilaku manusia”, maka untuk mencarinya kita perlu melakukan langkah sbb :
  • menetapkan golongan atau kelas.
  • menguji apakah definisi tadi betul-betul  memadai.
  • apakah definisi itu telah mencukupi segala syarat

Ketiga langkah tersebut dapat diuraikan atau dijelaskan secara singkat seperti dibawah ini.

  • Menetapkan golongan atau kelas.

Dalam contoh ini adalah menetapkan.golongan atau kelas dari “manusia”. Seperti diketahui manusia itu dapat dgolongkan  sebagai mahluk hidup, tetapi mahluk hidup  itu terlalu luas cakupannya. Cakupannya perlu dipersempit, maka disini  “manusia” digolongkan sebagai  “hewan”, hewan juga masih terlalu luas cakupannya, karena dalam hewan itu  termasuk ular, kerbau, monyet, dll. Monyet itu golongan hewan, dan manusia juga termasuk golongan hewan. Dalam hal ini manusia dan monyet adalah bersamaan (satu golongan).
Walaupun demikian kanak-kanak pun tahu bahwa manusia bukan monyet, dan monyet bukan manusia. Jadi definisi kita tadi, bahwa manusia itu hewan belumlah pas.
Kita mesti mencari perbedaan antara monyet dengan manusia yang satu kelas  itu. Kita tahu, atau sekarang ini kita percaya (mesti belum tentu dikemudian hari keyakinan ini tetap benar) bahwa manusia itu mempunyai akal, dan monyet tidak mempunyai akal, monyet cuma punya naluri (berinsting)
Manusia pandai berpikir menurut hukum yang kita namai hukum berpikir atau logika, tetapi monyet cuma mempunyai naluri (berinsting), berkecerdasan yang diberikan alam padanya. Pendeknya, menurut pengetahuan kita sekarang, perbedaan antara manusia dengan monyet adalah bahwa yang pertama pandai berpikir dan yang kedua tidak.
Definisi, kepastian yang sempurna tentang manusia sekarang kita dapatkan, yaitu  ”manusia ialah hewan yang berpikir”. Definisi semacam ini sudah bisa menjawab dua syarat definisi diatas : golongan atau kelas sebuah benda dan perbedaan antara benda itu.
  •   Masuk golongan apa manusia itu? Jawab: masuk golongan hewan.
  •    Apa perbedaan manusia dengan monyet, dimana keduanya masuk golongan hewan? Jawab: manusia pandai berpikir, sedangkan monyet tidak.

Selama kita mendapat kepastian bahwa monyet tak pandai berpikir, maka  daya upaya kita pada tingkat pertama untuk mendapatkan definisi manusia sudah selesai.

  • Menguji apakah definisi tadi betul-betul  memadai

Untuk menetahui apakah definisi tadi betul-betul  memadai, maka  kita mesti terus menguji  apakah definisi tadi memang betul-betul  memadai dengan memeriksa apakah :
  •   Semua barang yang mau kita definisikan itu (dalam hal ini manusia) masuk ke dalam pagar pembatas atau tidak.
  • Ada barang lain yang bukan manusia masuk ke dalam batas itu.

3.   Definisi ini satu sama lainnya berhubungan dan isi mengisi, tambah menambah.
Diawal sekali kita telah memakai kata definisi, yang artinya ketentuan, kepastian. Definisi penting sekali untuk segala macam sains, buat accurate thought. Penting buat matematika, ilmu alam dan logika.
Jika pemeriksaan berdasar ketiga hal tersebut diatas (menetapkan golongan, menguji ............ ) berhasil, maka untuk sementara ujian kita lulus ; definisi “semua manusia adalah hewan yang berpikir” itu bisa dipakai.

Sekarang  kita  memeriksa periksa sebaliknya, apakah “semua hewan yang berpikir itu manusia” :

Walaupun banyak cerita dari pemburu, penggembara, ahli hewan dan ahli tumbuhan yang membuktikan kecerdasan binatang seperti serigala, gajah, monyet, kancil dan pelanduk dalam peri kehidupannya, sementara boleh kita putuskan “tak ada di antara hewan yang bukan manusia itu pandai berpikir”. Sementara itu malaikat umpamanya pandai berpikir. Tetapi kita manusia biasa belum pernah berjumpa malaikat dan kita tak bisa memanggil malaikat pada tempat dan waktu yang kita pilih, seperti kita bisa nyalakan api asal ada alatnya pada waktu dan tempat yang kita kehendaki.
Untuk sementara, tak kita dapati barang yang bukan manusia termasuk dalam golongan hewan yang berpikir. Semua manusia termasuk hewan yang berpikir. Sebaliknya tak ada yang bukan hewan berpikir. Jadi semua hewan berpikir itu manusia belaka (A=B dan B=A). Untuk sementara benarlah definsi kita. Luluslah ujian pada tingkat kedua. Tetapi kerja kita belum lagi sempurna. Lalu kita mesti naik ke  tingkat penghabisan.

  • Apakah definisi itu telah mencukupi segala syarat

Pada tingkat akhir ini kita mesti memeriksa apakah definisi kita itu mencukupi segala syarat berikut :

1. Definisi sebisa-bisanya singkat, tetapi jangan terlalu luas atau terlalu sempit.
2.    Definisi tak boleh circular atau berputar-putar.
3. Definisi itu mesti general atau umum.
4. Definisi tak boleh memakai metafor, ibarat, kata figuratif, penggambaran, kata yang obscurate, menggunakan perkataan gaib, samar.
5. Definisi tak boleh memakai kalimat negatif.

Marilah kita jelaskan satu persatu kelima syarat tersebut diatas :

Ad 1. Definisi itu sebisa-bisanya singkat.
Sebisa-bisanya! Ada kalanya definisi tidak bisa dipendekkan. Kalau dipendekkan maknanya menjadi sempit. Definisi tak boleh terlalu sempit dan tak boleh terlalu luas. Kalau dibilang “manusia itu hewan”, maka betul definisi singkat tapi juga monyet dan ular termasuk hewan. Jadi kalau definisi ini kita balik, kita dapati “hewan itu manusia”. Tegasnya, ular, kerbau dan monyet itu manusia. Begitu juga kalau dibilang “manusia itu hewan bermata dua sebab kera dan ikan bermata dua.”
Definisi itu tak boleh sempit, ia mesti punya essential attributes: segala sifat penting yang tak boleh lupa. Kalau kita katakan kuda itu binatang memamah, maka definisi itu terlalu luas sebab kerbau juga binatang memamah. Tetapi jika kita berkata “kuda itu binatang memamah buat ditunggangi Pangeran Diponegoro”, maka artinya menjadi terlalu sempit sebab selain untuk ditunggangi Pangeran Diponegoro, dia juga dipakai buat penarik delma, bajak dsb.
Dalam matematika kita lebih mudah mencari contoh. Sebab memang matematika adalah buah pikiran yang pasti berdasar bukti yang didefinisikan lebih dahulu.
Demikianlah square, bujur-sangkar ialah satu gambar datar tertutup dibatasi oleh 4 garis lurus yang sama panjang, mempunyai 4 sudut siku-siku. Di sini bukan satu saja sifat yang penting. Pertama, dia mesti “gambar datar tertutup”, bukan gambar pada tempat bertinggi rendah. Bukan terbuka, melainkan semua sisinya bertemu. Kedua, dia mesti dibatasi oleh 4 garis lurus yang sama panjang, bukan 3 atau 5. Garisnya lurus tak boleh bengkok, panjang garis itu sama pula. Ketiga, 4 sudutnya mesti siku-siku. Satu pun dari ketiga sifat diatas tak boleh tertinggal. Kalau tertinggal bukan square yang kita peroleh.
Memang definsi sebisa-bisanya pendek, tapi mesti mengandung semua sifat penting.

Ad 2. Definisi itu tak boleh circular (berputar-putar).

Kesalahan ini didapat kalau kita memakai perkataan lain yang bersamaan artinya. Contoh dari Aristoteles. “Tumbuhan ialah benda hidup yang mempunyai jiwa vegetable”. Sedangkan vegetable itu artinya tumbuhan juga. Jadi sebenarnya definisi ini: “tumbuhan ialah barang hidup yang mempunyai jiwa tumbuhan”. Di sini nyata, tumbuhan balik artinya pada tumbuhan. Setali tiga uang. Dengan begitu kita tak mendapat kepastian penjelasan tentang tumbuhan. Demikianlah kalau Mahatma Gandhi mendefinisikan bahwa “ahimsa itu soul force”, kekuatan jiwa yang berdasar kasihan, seperti simpati, rohani. Apakah “kekuatan jiwa itu”? Itulah yang perlu lagi dibuktikan dengan mengganti nama baru yang mesti diterangkan pula, maka pekerjaan itu berputar-putar di sana saja, seperti menghesta kain sarung. Begitulah seorang kenalan saya tak akan memberi keterangan apa-apa, kalau definition itu dia jelaskan begini : “Definition, ialah satu ketentuan yang pasti, yang ditentukan oleh ketentuan yang tentu”. Disini dia pakai perkataan “ketentuan” dan “pasti” berulang-ulang, artinya sama dengan definisi. Meskipun definisinya itu panjang, dia tak memberi keterangan baru, karena keterangan yang diberikannya itu tak berpangkal tak berujung.

Ad 3. Definisi itu mesti general atau umum.
Definisi mesti bersifat umum, biasa, lebih dikenal dari para barang yang hendak didefinisikan. Hewan lebih umum, lebih luas cakupannya daripada manusia. Sebab ke dalam daerah hewan termasuk juga monyet, ular, ikan, dan bukan saja manusia. Tetapi walaupun cakupannya lebih luas, pengertian umum itu sebisa-bisanya lebih dikenal, jangan diketahui oleh kaum istimewa saja, kaum terpelajar saja umpamanya. Contohnya definisi berikut ini. Walaupun betul, cuma diketahui oleh sebagian kecil manusia saja. “Jam adalah sebuah kronometer untuk mengukur waktu dengan jitu”. Cukuplah kalau dibilang “jam adalah perkakas buat mengukur waktu”. Tak perlu kita pergi ke kapal, dimana orang pakai semacam jam istimewa yang bernama kronometer untuk pekerjaan yang kurang dikenal khalayak! Kecuali kalau tak ada cara alin daripada cara khusus itu tadi.

Ad 4. Definisi tak boleh memakai metafor, perumpamaan, kata figuratif dan kata yang obscurate, gaib.
Kita dengan definisi hendak memastikan, membuktikan dan menerangkan suatu barang. Dengan memakai ibarat saja, penggambaran saja dan memakai perkataan gaib yang tidak bisa dikenali panca indera, barang yang mau kita definisikan itu tak akan bertambah nyata. Malah sebaliknya.
Demikianlah kalau seorang penyair, tukang metafor yang tulen, mengumpamakan dirinya sebagai “sepantun anak ikan yang di waktu pasang besar hanyutlah ia”. Dalam satu hal dia memiliki persamaan dengan ikan. Ikan dihanyutkan oleh pasang dan si penyair dihanyutkan oleh sengsara hidup, walaupun sengsara hidupnya itu seringkali cuma didapat di ujung pena Parker-nya saja. Tapi lain dari itu tak banyak persamaan anak ikan tadi dengan penyair kita. Kalau dalam mendefinisikan penyair kita definisikan anak ikan sebagai gantinya, maka masuklah pula segala sifat anak ikan yang tak ada pada si penyair. Umpamanya kepala si anak ikan selalu dingin, kecuali kalau sudah masuk kuali. Sedangkan kepala si penyair belum tentu dingin, adem selalu.
Begitu juga dengan memakai gambaran atau memakai kata-kata gaib, barang yang akan dipastikan tak akan bertambah pasti, malah sebaliknya bertambah gaib.
Demikianlah kalau disajikan definisi tentang Rohani kepada pembaca yang terhormat: “Rohani itu ialah satu kodrat, laksana Sang Garuda Rajawali yang mengedari bulan dan matahari, dan menerbitkan bintang dan bumi yang bisa menjelma menjadi Kuman Pasopati memasuki Pagar Jasmani”.

Ad 5. Definisi tak boleh memakai kalimat negatif (tak ber-).
Kalau kita definisikan orang miskin sebagai orang yang tak kaya, maka definisi itu negatif. Tak bersifat yang nyata, yang positif. Bandingkanlah dengan definisi ini : orang miskin ialah orang yang tak punya harta benda apa-apa. Kadang dalam matematika sebuah definisi bersifat negatif, tapi ia sebenarnya positif. Umpamanya: satu garis lurus itu tak mengubah tujuannya. Di sini kata “tak mengubah” berarti “menetapkan”. Jadi definisi itu boleh diganti menjadi: satu garis itu menetapkan tujuannya. Kadang-kadang tak ada akal lain kecuali memberikan definisi yang negatif, umpamanya: gelap itu ialah tak terang.
Apabila Gautama Budha disesakkan oleh muridnya dengan pertanyaan yang berhubungan dengan sifat nirwana, rohani, atau jiwa, maka dia jawab: 1. Bukan ini. 2 Bukan itu, 3. Bukan ini atau itu (either this or that ). 4. Bukan tak ini dan tak itu (not neither this or that).
Barangkali sebagai pusaka dari putera raja kapilawastu yang memang pandai sekali memakai logika, walaupun berdasar mistika, maka di masyarakat Indonesia pun kita berjumpa dengan “jawaban main tidak” itu dalam ilmu gaib.

IV.              Penutup.

Cukup panjang uraian kita tentang definisi ini. Definisi itu kita anggap sebagai wilayah sains, wilayah ilmu pengetahuan.
Tan Malaka mengatakan ; jika kita tak memiliki definisi, maka semua ilmu tinggal satu onggok bukti saja, seperti seonggok pasir, tak ada pertalian masing-masing pasir.
Baru kalau didefinisikan, yang berarti juga di-organisir, di-susun, di-genaralisir, maka segala bukti yang teronggok tadi jadi sains. Onggokan pasir baru bersatu dan kokoh, kalau diikat dengan semen.
 
Demikianlah uraian  yang berisi bahasan dan renungan tentang definisi. Semoga bermanfaat.
*
The shepherd drives the wolf from the sheep's for which the sheep thanks the shepherd as his liberator, while the wolf denounces him for the same act as the destroyer of liberty. Plainly, the sheep and the wolf are not agreed upon a definition of liberty.
 Abraham Lincoln

*

Selasa, 17 Januari 2017

Ibn Khaldun

Ngunandiko.119




MUTIARA
(Ibn Khaldun)


Ngunandiko dengan judul "Mutiara (Ibn Khaldun)" ini berisikan beberapa "quotation" dari Ibn Khaldun.

Ibn Khaldun, lahir 27 Mei 1332, di Tunis [Tunisia], dan wafat 17 Maret 1406, Kairo, di Mesir. Ibn Khaldun adalah  sejarawan Arab terbesar, yang mengembangkan salah satu filosofi nonreligius di awal sejarah, yang a.l terkandung dalam karya-nya, Muqaddimah ("Introduction").

"Quotation" Ibn Khaldun ini diambil secara acak dari berbagai sumber untuk menggambarkan pandangan-pandangan-nya,  agar kita dapat mengingat dan merenungkannya kembali. Quotation-quotation itu adalah sbb :



  • Dalam pemikiran Islam, pendidikan agama dan moral, adalah proses yang tidak ada akhir-nya. Berlangsung seumur hidup, seperti yang diungkapkan dalam pepatah : “Belajar ilmu dari buaian ke kuburan” (Ibn Khaldun).
  • Geometry enlightens the intellect and set one’s mind right (Ibn Khaldun).

  • "Blindly following ancient customs..." Ibn Khaldun [701 x 601]:

  • Throughout history many nations have suffered a physical defeat, but that has never marked the end of a nation. But when a nation has become the victim of a psychological defeat, then that marks the end of a nation (Ibn Khaldun).
  • If the soul is impartial in receiving information, it devotes to that information the share of critical investigation the information deserves, and its truth or untruth thus becomes clear. However, if the soul is infected with partisanship for a particular opinion or sect, it accepts without a moment's hesitation the information that is agreeable to it. Prejudice and partisanship obscure the critical faculty and preclude critical investigation. The results is that falsehoods are accepted and transmitted (Ibn Khaldun).
.
  • Bisnis yang dimiliki oleh pedagang yang bertanggung jawab dan terorganisir, akhirnya akan melampaui yang dimiliki oleh penguasa kaya (Ibn Khaldun).
Demikianlah beberapa  renungan dan bahasan tentang quotation dari Ibn Khaldun, semoga bermanfaat.

*
Muqaddimah (karya Ibn Khaldun) adalah sebuah filsafat sejarah yang tidak diragukan lagi, itu adalah karya terbesar dari jenisnya yang belum pernah diciptakan oleh pikiran apapun dalam setiap waktu atau tempat (Arnold J. Toynbee) 

*

Sabtu, 14 Januari 2017

Terusan Suez

Ngunandiko.118




Terusan Suez
(Suez Canal)

Sebagaimana diketahui, manusia telah membuat sejumlah terusan di berbagai tempat di muka bumi a.l guna memperlacar transportasi melalui air. Sebagai gambaran berikut ini adalah data dari 9 (sembilan) terusan-terusan tersebut sbb :

 9 TERUSAN DI MUKA BUMI
No.
NAMA
LOKASI
PANJANG
DI BUKA
KETERANGAN
01
Beijing-Hanzhou
China
1.104 mil (1.776 km)
5 SM
Menghubungkan Beijing-Tianji s/d Hangzhou.
02
Laut Putih -Baltik
Rusia
141 mil (227 km)
1933
Menghubungkan Baltik dengan Laut Utara
03
Volga-Don
Rusia
62 mil
(100 km)
1952
Menghubungkan sungai Don dgn Laut Hitam.
04
Kiel
Jerman
50 mil    (98 km)
1926
Menghubungkan laut Utara dgn laut Baktik
05
Alphonso XII
Spanyol
53 mil    (85 km)
1926
Menghubungkan Sevilla dgn teluk Cadix
06
Manchester
Inggris
35 mil    (57 mill)
1894
Menghubungkan Manchester dgn Laut Irlandia
07
Welland
Canada
25 mill   (45 km)
1931
Menghubungkan Laut Erie dgn Danau Ontario
08
Panama
Panama
51 mill   (82 km)
1914
Menghubungkan Samudra Atlantik dengan Pacific
09
Suez
Mesir
100 mill (160 km)
1869
Menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah

========================================

Terusan Suez
Pada kesempatan ini “Ngunandiko” ingin membahas dan merenung tentang salah satu dari terusan-terusan tersebut diatas, yaitu terusan Suez (Suez Canal).
Terusan Suez, adalah salah satu saluran air di dunia yang dibuat oleh manusia. Terusan Suez  merupakan sebuah jembatan dan sekaligus garis pemisah antar benua. Terusan (canal) yang terletak di timur laut Mesir ini, membawa Eropa dan Asia lebih dekat, dengan terhubungnya Laut Tengah (Mediterannia) dan Teluk Suez (bagian dari Laut Merah). Hal ini juga menandai batas antara Asia dan Afrika.
Dalam dunia yang penuh warna dan penuh gejolak ini, kiranya tidak ada terusan (canal) yang dapat menyaingi Terusan Suez, jika dilihat dari sisi ekonomi ataupun sisi politik. Kapal berlayar dari Eropa ke Asia dan sebaliknya — baik untuk mengangkut barang dagangan maupun mengangkut balatentara dan lain-lain — yang semula harus mengambil rute  ujung selatan Afrika, dengan adanya terusan Suez telah dipersingkat ribuan kiiometers.
Adanya terusan Suez juga merubah pola hubungan (transportasi) antara Barat (Eropa) dan Timur (Asia), hubungan itu semula bertumpu pada jalan-jalan darat kafilah-kafilah—kafilah  adalah suatu rombongan (dagang)  yang terdiri dari iring-iringan unta di padang pasir a.l di Persia –  berubah menjadi jalan laut melalui terusan Suez. Hubungan transportasi seperti ini (jalan laut) lebih murah, lebih aman dan mempersingkat waktu.
Seperti diketahui sebuah “terusan” (canal) yang menghubungkan Sungai Nil dan Laut Merah telah ada di Mesir hampir 4.000 tahun yang lalu. Dengan suatu perahu kecil, orang bisa bepergian dari Mediterranian melalui Sungai Nil  dan  “terusan” itu ke Laut Merah. Dalam abad-abad berikutnya, “terusan” seperti itu telah dibangun pula, dan tentu saja telah diubah beberapa kali. Kira-kira pada abad ke-8, terusan-terusan sederhana juga masih dibuat orang secara bebas.
Selama beberapa-abad setelah itu, orang-orang masih bermimpi akan adanya sebuah terusan (canal) yang menghubungkan Mediterranian dan laut Merah. Napoleon Bonaparte (1769 – 1821) juga menyatakan minatnya membangun terusan tersebut, tapi para insinyur-nya telah melarangnya.  Para insinyur itu mengatakan  bahwa permukaan Laut Merah lebih tinggi dari Mediterannia, dan jika sebuah terusan (canal) yang besar dibangun, maka itu akan menyebabkan Mesir Hilir dibanjiri air laut.
Dalam pada itu seorang Perancis, Ferdinand de Lesseps (1805 – 1894), tahu bahwa sesungguhnya kedua permukaan laut itu memiliki tingkat ketinggian yang sama.   De Lesseps lalu menyusun rencana untuk membangun terusan (canal) yang menghubungkan laut Mediterannia dan Laut Merah.  
Ferdinand de Lesseps kemudian membentuk suatu perusahaan yang akan membangun terusan (canal) itu, dan menjual saham-nya untuk membiayai pembangunannya. Perusahaan swasta ini, disebut “Suez Canal Company”,   awalnya sulit bagi perusahaan swasta ini menarik investor. 
Namun akhirnya uang dapat terkumpul. Sebagian besar uang untuk terusan itu  berasal dari investor swasta Perancis. Pemerintah Mesir membeli hampir setengah saham perusahaan tersebut. Sementara itu Inggris merasa takut bahwa terusan itu akan mengganggu kepentingan kereta api mereka di Mesir.
Pada tanggal 25 April tahun 1859 dengan susah payah pembangunan terusan itupun dapat dimulai. Namun De Lesseps masih harus menghadapi  banyak masalah antara lain sbb :
  • mengangkut air dan makanan utk para pekerja di gurun yg sangat luas ;
  • jutaan ton tanah harus dipindahkan dgn alat-alat yg ada pada waktu itu ;
  • banyaknya pekerja (termasuk pekerja terampil) yg harus selalu diawasi ;
  • penyakit yg menyerang para pekerjanya ; dan lain-lain.
Mungkin masalah terbesarnya adalah mengangkut air dan makanan untuk para pekerja. Masalah  ini akhirnya dapat dipecahkan dengan menggali  saluran sementara air tawar  dari sungai Nil ke gurun, dan kemudian dialirkan sejajar dengan rute terusan Suez.
Pada tanggal 17 November tahun 1869, terusan Suez itu dapat dibuka, dan diperkirakan telah menelan biaya hampir $ 100.000.000.  Terusan Suez Itu secara teknis  memiliki specifikasi sbb:
  • panjang 172 kilometer (107 mil) ;
  • lebar 54 meter (160 kaki) ;
  • kedalaman (minimum) adalah 8 meter (26 kaki) ;
  • tidak memerlukan kunci (pintu pengatur), karena kedua laut berada di  tingkat ketinggian permukaan yang hampir sama.
  • untuk melayani kapal-kapal di Mediterrania dibangun Port Said.
  • teluk Suez diperbesar, khususnya di sekitar pelabuhan Port Taufiq.
Untuk memperingati pembukaan “Terusan Suez” tersebut, penguasa (khedive) Mesir memerintahkan Giuseppe Verdi untuk menulis opera Aida. Hal semacam itu adalah  untuk pertama kali dilakukan di Kairo, pada tahun 1871.
Terusan Suez ternyata adalah usaha yang sangat menguntungkan. Kapal-kapal bersedia membayar untuk dapat melalui terusan itu, karena dapat menghemat ribuan kilometer perjalanan laut.  Inggris ternyata juga menyadari pentingnya terusan Suez itu. Ketika Pemerintah Mesir memikul hutang yang berat dan akhirnya  terpaksa menjual saham-sahamnya, maka Inggris segera membelinya. Pada tahun 1875 hampir setengah saham  “Suez Canal Company” dimiliki oleh Inggris.
Pada tahun 1870, tahun pertama terusan (canal) beroperasi, ada kira-kira 500 transit, atau kurang dari 2 transit per hari. Namun pada tahun-tahun berikutnya jumlah kapal yang melewati terusan (transit) terus meningkat.
Sebagai gambaran berikut ini disampaikan operasi terusan (canal)  pada tahun 1870, 1966, 1980 dan 2914, yang  lebih kurang adalah sbb:

Tahun
Transit per tahun
Rata-rata per hari
Tonase (Mton)
1870
500
2
-      444.000-
1966
21.000
58
229.000.000
1980
25,000
50
355,600.000
2014
17.000
40
963.000.000




Catatan : Angka-angka dibulatkan

Semula terusan (canal)  tidak mengizinkan lalu lintas dua arah. Namun   untuk memungkinkan lewatnya kapal ke arah lain, maka kapal akan berhenti di sebuah teluk. Waktu transit rata-rata 40 jam, tetapi pada tahun 1939  telah berkurang menjadi 13 jam.
Sebuah sistem konvoi diadopsi pada tahun 1947, yang terdiri dari satu ke utara dan dua ke selatan per hari. Pada tahun 1967 waktu transit  lk 15 jam. Sistem konvoi tersebut juga mencerminkan adanya pertumbuhan   lalu lintas kapal tanker. Dengan beberapa perluasan kanal, waktu transit sejak tahun 1975 bervariasi antara  11 sampai 16 jam. Setelah memasuki kanal di Port Said atau di Suez, kapal dinilai berdasar tonase-kargo (penumpang tidak dikenakan biaya sejak 1950), dan dipandu oleh satu atau dua orang pilot (pemandu). Transit di terusan kanal kemudian   semakin dikendalikan oleh radar. Konvoi menuju selatan di Port Said, Al-Ballah, Danau Timsah, dan Al-KabrÄ«t, di mana ada bypass yang memungkinkan konvoi ke utara untuk melanjutkan tanpa berhenti.
Pada Agustus 2015 perluasan secara paralel 22 mil (35 km) dibuka, dan baru  berjalan di saluran utama, memungkinkan dua arah transit melalui terusan (canal). Saluran utama itu diperdalam untuk memungkinkan lewatnya kapal yang lebih besar. Proyek perluasan kanal diluncurkan oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada tahun 2014, hal itu adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan perekonomian Mesir.

Sebagai gambaran, pada tahun 2015, cargo (kapal pengangkut  barang dagangan)  yang  telah melewati terusan (transit) Suez  sbb ;

CARGO (OIL)
Utara/Selatan
Selatan/Utara
TOTAL (TON)
Crude oil
18,963
61,753
80,716
Motor Spirit
9,858
18,735
28,593
Gas & Diesel Oil
2,208
15,330
17,538
Fuel Oil
26,206
504
26,710
Naphtha
18,258
33
18,291
LPG
1,669
300
1,969
Others Oil
6,553
2,634
9,187
TOTAL OIL
83,715
99,289
183,004




OTHER CARGO



LNG
5,614
21,940
27,554
Cereals
43,495
286
43,781
Fertilizers
8,513
4,087
12,600
Fab Metals
9,538
17,723
27,261
Chemicals
7,630
10,561
18,191
Coal & Coke
3,372
11,145
14,517
Food Stuffs
2,116
527
2,643
Machinery & Parts
3,940
3,295
7,235
Ores & Metals
30,126
511
30,637
Oil Seeds
2,098
1,096
3,194
Vegetable Oils
3,089
10,950
14,039
Containerized Cargo
209,653
219,057
428,710
Others
4,313
5,237
9,550
Total Other Cargos
333,497
306,415
639,912
Grand Total
417,212
405,704
822,916




Tampak bahwa jumlah transit cargo oil memiliki andil lk 35 % ; cargo crude oil memiliki andil lk 10 % ; dan cargo cereals (makanan) lk 5 % dari total transit. Sedangkan dilihat dari arah datangnya cargo, maka jumlah cargo dari kedua arah lk sama.
Dapat dikemukakan disini bahwa dalam “perjajian asli” memberi hak sewa kepada  “Suez Canal Company” selama 99 tahun. Dan menurut Konvensi Konstantinopel, 29 Oktober 1888 semua bangsa memiliki hak menggunakan kanal Suez tersebut. Namun sebagai akibat dari  perang antara negara-negara Arab (termasuk Mesir) dengan Israel pada tahun 1948-1949, maka Mesir menolak untuk membiarkan kapal-kapal Israel menggunakan kanal Suez tersebut.
Pada tahun 1956 Pemerintah Mesir menasionalisasi kanal yang berakibat   pecah perang antara Mesir dan Israel ; pasukan Inggris dan pasukan Perancis mendarat di Port Said. Akibat perang pada tahun 1967 dan 1973-yang berkecamuk di wilayah Suez Canal itu, maka untuk beberapa tahun kanal ditutup. Dan dibuka lagi untuk pelayaran internasional pada tahun 1975.
Dalam pada itu, bangsa Indonesia berdasar undang-undang dasarnya yaitu pada Pembukaan UUD RI 1945 berkuajiban ikut menciptakan perdamaian dunia, maka Indonesia ikut membantu mengatasi “Krisis Suez”  tersebut. Hal itu a.l dilakukannya     dengan menempatkan pasukan TNI sebagai penjaga perdamaian di wilayah Mesir dibawah komando UNEF (United Nations Emergency Forces).
Pasukan UNEF di Suez
Pasukan TNI yang dikirim sebagai penjaga perdamaian di Mesir ini disebut Pasukan Garuda, pasukan yang pertama ini dipimpin oleh Letkol Hartoyo yang kemudian digantikan oleh Letkol Saudi
Pasukan TNI yang dikirim sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian di Mesir ini merupakan Pasukan TNI pertama yang ikut dalam misi perdamaian dunia dan berangkat ke Timur Tengah pada bulan Januari 1957.
Seperti diketahui terusan (canal) Suez pada tahun 1957 telah diperlebar dan diperdalam, dan sejak  saluran (Bypass) dibuka  kapal dapat melakukan perjalanan dari kedua  arah yang berlawanan pada saat yang sama. Cargo benda-benda padat (kering)—non oil pada waktu itu lebih penting daripada cargo benda cair (oil atau minyak). Seiring dengan meningkatnya supply minyak dari wilayah disekitar terusan Suez, maka hal itu kemudian berubah. Terusan Suez lalu diperbesar lagi untuk dapat dilewati oleh kapal supertanker pengangkut crude oil.
Sebelum menutup bahasan dan renungan tentang “Terusan Suez’ ini, maka “Ngunandiko” ingin mengemukakan hal-hal sbb :
  • Beberapa-abad yang lalu orang telah bermimpi akan adanya sebuah terusan (canal) yang menghubungkan laut Mediterranian dengan laut Merah. Bahkan Napoleon Bonaparte (1769 – 1821) juga telah menyatakan minatnya membangun terusan (canal) itu ;
  • Seorang insinyur Perancis, Ferdinand de Lesseps (1805 – 1894), adalah orang yang kemudian membangun terusan Suez tersebut.  Adapun langkah pertama Ferdinand de Lesseps  adalah membentuk perusahaan dan menjual saham-sahamnya untuk membiayai  pembangunan terusan (canal)  itu. Pada 1859 pembangunan terusan itu-pun dapat dimulai ;
  • Perusahaan yang dibentuk oleh Ferdinand de Lesseps itu disebut “Suez Canal Company”.  Pada awalnya sebagian besar saham “Suez Canal Company”  berasal dari investor swasta Perancis dan Pemerintah Mesir yang membeli hampir setengah jumlah saham perusahaan tersebut.
  • Dalam pada itu Inggris merasa kuatir bahwa terusan itu akan mengganggu operasi kereta api Inggris di Mesir. Namun Inggris juga menyadari bahwa terusan Suez itu juga penting baginya. Oleh karena itu ketika Pemerintah Mesir  terpaksa menjual sahamnya di  “Suez Canal Company”, maka Inggris  segera membelinya. Pada tahun 1875 hampir setengah saham di  “Suez Canal Company” dimiliki oleh Inggris.
  • Terusan Suez itu bagi Barat seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman dll memiliki fungsi strategis untuk mengamankan transportasi pasokan bahan baku dan pasar produk industrinya. Seperti diketahui bahan baku dan pasar industri Barat sebagian besar  berada di koloni koloni-nya di Timur seperti India, Malaysia, Indonesia, Indochina, Australia dll.
  • Terusan Suez juga merupakan usaha yang sangat menguntungkan, kapal-kapal dari berbagai perusahaan (mis ; perusahaan minyak) bersedia membayar dengan baik untuk dapat melalui terusan itu. Hal itu karena dapat menghemat ribuan kilometer perjalanan laut.

  • London - Mumbai
  • Semula  secara tradisional wilayah Persia (Iran) berperan sebagai pusat lalu lintas dagang antara Asia dan Eropa. Namun kemudian menjadi kurang berarti lagi, karena sejak  abad ke 16 lalu lintas dagang itu telah bergeser dari jalan darat (kafilah-kafilah) menjadi jalan laut, lebih-lebih setelah adanya terusan Suez pada abad ke 19.
  • Terusan Suez ini ternyata telah merubah pola lalu lintas dari Barat ke Timur dan sebaliknya. Semula (selama ratusan tahun) lalu lintas dari Barat ke Timur itu bertumpu pada pola transportasi darat (dengan kafilah-kafilah) melalui gurun-gurun pasir di Persia dll, namun kemudian  berubah menjadi bertumpu pada pola transportasi laut.
  • Perubahan pola trnsportasi darat menjadi pola transportasi laut menjadikan terusan Suez sangat penting, baik dari sisi ekonomi maupun politik. Negara-negara disekitar terusan itu berusaha mengusai  terusan Suez itu a.l dengan cara seperti yang dilakukan oleh Mesir yaitu dengan nasionalisasi.
  • Sedangkan negara-negara Barat (Inggris, Perancis dll) berusaha  mengusai terusan Suez itu untuk menjaga kepentingannya dengan cara : mendominasi kepemilikan terusan itu, mengadu domba negara-negara disekitar terusan itu , menyokong berdirinya negara Israel yang pro Barat ; dan cara-cara lain..

Demikianlah bahasan dan renungan singkat tentang terusan Suez. Semoga bermanfaat.
*
“Since 1849 I have studied incessantly, under all its aspects, a question which was already in my mind since 1832. I confess that my scheme is still a mere dream, and I do not shut my eyes to the fact that so long as I alone believe it to be possible, it is virtually impossible. ... The scheme in question is the cutting of a canal through the Isthmus of Suez. This has been thought of from the earliest historical times, and for that very reason is looked upon as impracticable. Geographical dictionaries inform us indeed that the project would have been executed long ago but for insurmountable obstacles. [On his inspiration for the Suez Canal.]” 
 
Ferdinand de Lesseps
*